Mencicipi Sedapnya Rujak Soto dan Pecel Pitik di Titik Nol Banyuwangi

Mencicipi Sedapnya Rujak Soto dan Pecel Pitik di Titik Nol Banyuwangi

Sudrajat - detikFood
Selasa, 02 Jun 2026 15:00 WIB
Pecel pitik khas Banyuwangi
Foto: Getty Images/iStockphoto/Mujibur Rohman
Banyuwangi -

Bila ingin menikmati beragam kuliner khas Banyuwangi dalam satu tempat yang nyaman dan estetik, Srengenge Wetan bisa menjadi pilihan. Restoran yang berada tepat di kawasan Titik Nol Kilometer Banyuwangi itu menyajikan aneka menu tradisional yang mungkin sulit ditemukan di daerah lain, mulai dari rujak soto, pecel pitik, ayam lodho, ayam kesrut, nasi tempong hingga pecel rawon.

Jumat malam kemarin kami sengaja mampir ke Srengenge Wetan atas rekomendasi sahabat kami, Audrey dan Connie yang sudah beberapa kali plesiran ke Banyuwangi. "Di situ pilihan menunya banyak dan unik-unik," kata Audrey meyakinkan.

Sesampainya di sana, saya langsung paham mengapa tempat ini cukup populer di kalangan wisatawan. Aroma rempah langsung menyambut dari area prasmanan. Di sudut ruangan, alunan live music terdengar mengiringi obrolan para pengunjung yang sedang menikmati makan malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meja-meja di lantai dasar hampir terisi penuh, sebagian oleh wisatawan domestik, sebagian lagi oleh turis mancanegara yang tampak menikmati suasana santai di pusat Kota Banyuwangi.

Kuliner Banyuwangi di Srengenge WetanSrengenge Wetan tawarkan aneka makanan khas Banyuwangi. Foto: Sudrajat

Restoran yang beroperasi sejak 2016 itu memadukan nuansa tradisional dan modern. Di lantai dasar, pengunjung bisa memilih menu secara prasmanan. Sementara lantai dua menawarkan suasana yang lebih tenang dengan area terbuka, ruang yang lebih privat, serta balkon bagi pengunjung yang ingin merokok.

ADVERTISEMENT

Pilihan menu kami malam itu berbeda-beda. Saya memesan rujak soto dengan lontong. Galih memilih rujak soto campur nasi. Connie tertarik mencoba pecel pitik. Cepi menjatuhkan pilihan pada ayam lodho, sedangkan Viny memilih nasi tempong yang terkenal pedas.

Dari semua hidangan yang tersaji di meja, perhatian saya langsung tertuju pada rujak soto. Rujak dan soto adalah dua makanan yang memiliki karakter berbeda. Yang satu identik dengan bumbu petis, kacang tanah, dan rasa pedas segar. Yang satunya lagi dikenal sebagai sajian berkuah gurih dengan aroma rempah yang kuat. Namun di Banyuwangi, keduanya justru dipersatukan dalam satu mangkuk.

Di hadapan saya tersaji campuran kangkung rebus, tauge, tahu goreng, tempe, telur rebus, dan lontong yang telah diberi bumbu rujak. Beberapa keping emping dan kerupuk udang melengkapi tampilannya. Di atasnya kemudian disiram kuah soto kuning panas lengkap dengan potongan daging sapi.

Suapan pertama membuat saya berhenti sejenak. Rasa gurih kuah soto datang lebih dulu, disusul aroma petis yang khas. Tak lama kemudian muncul sensasi manis, pedas, dan segar dari bumbu rujak yang berpadu dengan sayuran rebus.

Potongan daging sapi yang empuk membuat tekstur hidangan ini semakin kaya. Perpaduan yang awalnya terdengar aneh ternyata terasa begitu pas. Tak heran jika rujak soto kemudian menjelma menjadi salah satu ikon kuliner Banyuwangi.

Kuliner Banyuwangi di Srengenge WetanRujak Soto, salah satu kuliner khas Banyuwangi yang menarik dicicipi. Foto: Sudrajat

Hidangan ini dipercaya lahir dari kreativitas masyarakat setempat yang menggabungkan dua makanan favorit mereka, yakni rujak dan soto. Seiring waktu, kuliner tersebut berkembang menjadi identitas gastronomi masyarakat Osing dan kini menjadi menu yang hampir selalu dicari wisatawan.

Salah satu ciri khas rujak soto Banyuwangi terletak pada penggunaan petis dan pisang klutuk atau pisang batu dalam bumbu rujaknya. Kombinasi bahan tersebut menciptakan rasa yang khas dan sulit ditemukan di daerah lain.

Konon, kemunculan rujak soto juga sering dikaitkan dengan lagu tradisional Banyuwangi berjudul Rujak Singgul. Meski tidak menyebut rujak soto secara langsung, lagu tersebut mengisahkan beragam jenis rujak yang dikenal masyarakat Banyuwangi. Dari kreativitas warga kemudian lahirlah perpaduan rujak dan soto yang kini menjadi kebanggaan daerah tersebut.

Hidangan lain yang menarik perhatian malam itu adalah pecel pitik yang dipesan Connie. Sekilas tampilannya sederhana. Suwiran ayam kampung dicampur parutan kelapa muda berbumbu. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan sejarah panjang masyarakat Osing.

Seorang pramusaji berkebaya cokelat bercerita bahwa pecel pitik dahulu merupakan hidangan yang tergolong sakral. "Dulu pecel pitik wajib hadir dalam berbagai upacara adat dan selamatan masyarakat Osing," ujarnya.

Berbeda dengan pecel yang identik dengan sayuran, pecel pitik menawarkan perpaduan rasa gurih dengan aroma asap khas dari ayam kampung yang terlebih dahulu dipanggang. Aroma kelapanya terasa dominan, sementara bumbu yang meresap membuat setiap suapan terasa kaya rasa.

Sementara itu, ayam lodho yang dipesan Cepi hadir dengan kuah santan kaya rempah. Sekilas mirip opor ayam, tetapi dengan karakter rasa yang lebih kuat.

Kuliner Banyuwangi di Srengenge WetanNasi tempong dengan sambal menggigit yang menarik selera. Foto: Sudrajat

Sedangkan nasi tempong milik Viny tampil dengan sambal pedas yang terkenal mampu membuat penikmatnya berkeringat. Beberapa kali gadis asal Bandung itu harus berhenti mengunyah dan meraih gelas minum karena kepedasan. "Ayo, pelan-pelan. Kamu pasti bisa," Audrey menyemangati sambil tertawa.

Sambal nasi tempong Banyuwangi memang terkenal galak di lidah, tetapi justru itulah yang membuat banyak orang ketagihan.

Menurut pengelola restoran, salah satu alasan Srengenge Wetan menghadirkan menu-menu tersebut adalah agar wisatawan lebih mudah mengenal kekayaan kuliner Banyuwangi. Sebab dahulu, wisatawan yang ingin mencari rujak soto atau beberapa kuliner khas lainnya harus masuk ke kampung-kampung melalui gang sempit yang tidak selalu mudah ditemukan.

(adr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads