Bertahan Dua Dekade, Abah Coy Ungkap Rahasia di Balik Nasi Bancakan Bandung

Bertahan Dua Dekade, Abah Coy Ungkap Rahasia di Balik Nasi Bancakan Bandung

Sudrajat - detikFood
Senin, 06 Apr 2026 14:00 WIB
Nasi Bancakan
Abah Coy (kanan), sosok di balik Nasi Bancakan. Foto: Sudrajat
Bandung -

Di tengah menjamurnya rumah makan Sunda dengan konsep modern, Nasi Bancakan justru bertahan dengan cara lama. Hampir dua dekade berjalan, tempat makan ini nyaris tak berubah-baik dari segi rasa, konsep, maupun cara melayani pelanggan.

Di balik konsistensi itu, ada sosok yang kini menjadi wajah Bancakan: Abah Coy. Dengan gaya ramah dan komunikatif, ia tak hanya menyapa pengunjung, tetapi juga kerap menjelaskan istilah-istilah Sunda yang terpampang di dinding rumah makan.

Perjalanan Nasi Bancakan sendiri bermula dari tempat sederhana. Di sebuah halaman parkir perkantoran di Bandung, seorang perempuan yang akrab disapa Ibu Oom mulai menjajakan masakan rumahan. Cita rasa khasnya perlahan dikenal, menarik pelanggan setia dari hari ke hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat permintaan meningkat, Oom kemudian berkolaborasi dengan adiknya, Barna. Keduanya membuka rumah makan di Jalan Trunojoyo pada September 2007, dengan dukungan modal, manajemen pemasaran, hingga penataan logistik dan keuangan dari seorang investor di Bandung.

Nasi BancakanSusana bersantap di Nasi Bancakan Bandung. Foto: Sudrajat

"Waktu masih di parkiran, saya ikut menjajakan masakan Ibu dari pintu ke pintu," kenang Abah Coy saat berbincang dengan detikfood, Jumat (3/4/2026).

ADVERTISEMENT

Kini, meski Ibu Oom sudah tidak lagi terlibat langsung di dapur sejak 2012, resep racikannya tetap menjadi rujukan utama. Operasional dapur dijalankan oleh 11 juru masak dalam ritme kerja yang terjaga, sebagai bagian dari sekitar 60 karyawan yang menjaga kualitas hidangan.

Setiap hari, Bancakan menyajikan sekitar 100 menu khas Sunda-mulai dari lauk pauk, sayuran, lalapan, hingga aneka sambal. Jumlah itu bahkan bisa bertambah saat libur panjang.

Perjalanan Abah Coy sendiri tak lepas dari lika-liku. Lahir pada 1973, ia sempat bekerja di pabrik tekstil sebelum terdampak krisis ekonomi 1997. Sejak itu, ia beralih ke dunia restoran dan mengisi berbagai posisi, terutama di bidang manajemen dan administrasi.

Pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika Bancakan menghadapi masa sulit, termasuk saat pandemi COVID-19. Pada 2021, mereka memutuskan pindah ke lokasi baru di Jalan Diponegoro Nomor 25, persis di samping Gedung DPRD Jawa Barat.

Nasi BancakanSekitar 100 menu khas Sunda tersaji di Nasi Bancakan. Foto: Google Image/Ningky Munir

Di tengah banyaknya rumah makan Sunda yang tumbuh dan tumbang, Bancakan justru tetap bertahan. Menurut Abah Coy, ada beberapa kunci yang mereka pegang sejak awal.

Pertama, konsistensi rasa. Resep asli dari sang Ibu dijaga tanpa banyak perubahan, meski dapur kini ditangani banyak juru masak.
Kedua, pelayanan yang personal. Interaksi langsung dengan pelanggan menjadi bagian penting dari pengalaman makan di Bancakan.

Ketiga, tidak tergoda ekspansi cepat. Hingga kini, Bancakan tidak membuka sistem waralaba, meskipun peluangnya terbuka. Keempat, disiplin dalam bisnis. Termasuk dalam hal pembayaran-semua transaksi dilakukan secara tunai untuk menghindari masalah seperti yang pernah dialami di masa awal.

"Dulu kami senang saat ada pesanan rutin dari instansi, tapi pembayarannya lama dan birokratis," ujar Abah Coy.

Pengalaman itu menjadi pelajaran penting. Bagi Abah Coy, bertahan bukan soal mengikuti tren, melainkan menjaga apa yang sejak awal sudah dipercaya pelanggan.

(adr/adr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads