Es krim potong Singapura yang ikonik resmi naik harga hingga 2 kali lipat. Fenomena ini dijuluki sebagai bukti inflasi yang nyata!
Fenomena kenaikan harga makanan kaki lima tak hanya terjadi di restoran atau kafe modern. Tetapi juga merambah jajanan klasik yang dianggap sebagai ikon suatu kawasan.
Misalnya seperti es potong Singapura yang legendaris dan banyak ditemukan di Orchard Road. Es krim yang dijajakan dengan gerobak kaki lima ini terkenal sebagai jajanan murah meriah yang banyak diincar warga lokal maupun turis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama puluhan tahun, es krim ini hanya dijual senilai 1 Dolar Singapura. Tetapi beberapa tahun terakhir terjadi kenaikan harga pada es krim ini, sampai disebut jadi bukti inflasi.
Es krim potong Singapura naik harga, meski begitu masih diantre pelanggannya. Foto: Tim detikFood |
Naik Harga hingga Dua Kali Lipat
Sejak puluhan tahun lalu, wisatawan yang datang ke Singapura tak hanya dimanjakan dengan tata kota atau pusat perbelanjaan saja. Tetapi kuliner kaki lima yang legendaris dan ikonik menjadi salah satu daya tariknya.
Salah satunya adalah es krim potong yang seolah menjadi ciri khas di Orchard Road. Beberapa penjual es krim potong ini tersebar sepanjang ruas jalan Orchard.
Dahulu, es krim ini terkenal dijual dengan harga 1 Dolar Singapura yang diibaratkan bisa dibeli dengan uang recehan. Tetapi per 2018, es krim ini telah naik harga.
AWalnya 1 Dolar Singapura, kini dibanderol menjadi 2 Dolar Singapura per porsinya (setara dengan Rp 26.000an). Hal ini dibuktikan oleh tim detikFood yang mengunjungi Orchard Road, Singapura pada Kamis (29/1/2026).
Walaupun begitu penjual es krim potong ini masih banyak peminatnya. Tampak wisatawan atau warga lokal yang melintasi Orchard Road melipir untuk membeli es krim dan duduk di bangku-bangku yang telah disediakan untuk menikmatinya.
Para penjualnya dipertahankan oleh pemerintah ternyata sebagai cara memberdayakan lansia. Foto: Tim detikFood |
Jadi Cara Pemberdayaan Lansia
Konon es potong ini tidak hanya dimaksudkan untuk mencari pemasukan ekonomi saja. Pemerintah Singapura disebut-sebut justru memberdayakan es krim potong ini sebagai jajanan kaki lima resmi.
Tujuannya ialah mengkaryakan warga lokal yang sudah lanjut usia untuk tetap bekerja. Hal ini pun terbukti dari beberapa penjual es krim yang kami temui memang didominasi oleh lansia.
Gerobak yang digunakan pun seolah menampilkan cara berjualan yang klasik. Ada yang berbentuk gerobak dorong maupun sebagian penjual yang memodifikasi gerobaknya dengan disambung sepeda motor untuk memudahkan mobilitas.
Varian es krimnya banyak, rasanya pun tak berubah sejak dulu. Foto: Tim detikFood |
Pilihan Es Krim yang Variatif
Walaupun terkesan sederhana tetapi es krim potong kaki lima ini menawarkan varian yang banyak. Ada sekitar 16 varian es krim yang tersedia pada gerobak es potong ini.
Begitu pula dengan pelengkap es krimnya yang bisa dipilih baik dengan roti maupun wafer. Tim detikFood mencicipi dua varian es krim di sini yaitu Cokelat dan Choco Mint.
Karakter rasa, tekstur, hingga cara penyajiannya tak berubah sedikit pun. Tetap dengan plastik untuk memudahkan pelanggan memegang, roti atau wafer sebagai pengapitnya, serta es krim yang baru dipotong oleh penjualnya saat ada pelanggan yang membeli.
Meski harganya sudah naik dua kali lipat, es krim ini tetap layak untuk dinikmati. Apalagi sebagai penghalau panas ketika berkeliling di Orchard Road yang berupa ruang terbuka tanpa atap saat cuaca terik.
Simak Video "Review Makanan Bertabur Serangga hingga Jangkrik di Restoran Singapura"
[Gambas:Video 20detik]
(dfl/adr)




KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN