Barack Obama pernah mencoba makanan unik khas Vietnam. Bukan pho atau banh mi yang mainstream, melainkan bun cha gio dengan karakter rasa unik.
Selepas magrib, Jumat (6/2/2026), arus lalu lintas ke arah Cawang padat seperti biasa. Untuk menunggu kemacetan sedikit terurai, kami singgah di TIS (Tebet Indrayana Square). Di kawasan ini berdiri Pho 24 Vietnamese, restoran Vietnam yang sudah beroperasi sejak 2005.
Awalnya saya membujuk ketiga teman untuk menyantap pho dengan kuah panas yang mengepul. Menu ini terasa pas untuk malam Jakarta yang agak lembap dan melelahkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun niat itu buyar ketika buku menu disodorkan. Mata saya tertahan pada satu nama: Bun. Tepat di bawahnya ada keterangan yang sulit diabaikan: menu pilihan Barack Obama saat bersantap di Hanoi bersama chef terkemuka Anthony Bourdain pada 2016.
Pho 24 Vietnamese menawarkan Bun Cha Gio, menu yang pernah dicicipi Barack Obama dan Anthoby Bourdain. Foto: Sudrajat |
Keterangan itu langsung menggoda. Level sikap norak saya melonjak, serasa setara dengan Obama dan Bourdain. Saya pun mengubah pesanan dan memilih Bun Cha Gio tersebut. Tiga teman lain tetap setia pada jalur aman: semangkuk pho dan sepiring nasi goreng.
Tak sampai 30 menit, seporsi Bun Cha Gio tersaji. Isinya berupa bihun dingin, sayuran segar (salad, timun, wortel, dan daun mint) beberapa keping udang yang cukup gemuk, taburan kacang, lumpia goreng, dan daging giling yang dibuntal ke irisan tebu.
Pokoknya persis seperti yang ditampilkan dalam foto. Selain itu ada mangkuk kecil berisi saus nuoc mam (saus ikan Vietnam) yang rasanya manis-asam.
Secara rasa, menu ini terasa ringan dan menyegarkan. Menariknya, secara personal saya justru menemukan kemiripan dengan asinan. Ada sensasi asam-manis, ada kacang, dan ada efek "nyess" yang membuatnya cocok disantap siang hari maupun malam hari.
Ketiga teman saya mesam-mesem begitu saya sebut menu tersebut mirip dengan asinan. "Kalau kurang kenyang tar tambah mi ayam di Stasiun Depok," ledek salah satu dari mereka.
Ada satu perbedaan yang cukup mencolok dari menu ini, yakni rasa pedas. Pada asinan, rasa pedas biasanya menyatu sejak awal karena cabai sudah diolah dan dilebur ke dalam saus. Sementara pada Bun Cha Gio, pedas datang dari irisan cabai rawit yang disajikan terpisah. Karena itu rasa pedas terasa sebagai aksen, bukan karakter utama.
Kelezatan Bun Cha Gio dengan topping udang hingga lumpia goreng. Foto: Sudrajat |
Karena karakternya yang cenderung ringan, seporsi Bun ini bagi saya terasa kurang nampol jika berdiri sendiri. Demi memperkaya asupan protein sekaligus menambah dimensi rasa, saya menambah pesanan satu porsi (empat potong) chicken wing.
Pilihan ini terasa pas: dagingnya lebih bertekstur, gurihnya lebih tegas, dan menjadi kontras yang menyenangkan bagi Bun yang segar dan asam-manis. Kombinasi keduanya membuat makan malam terasa lebih utuh-ringan tapi tidak menggantung.
Apakah Bun Cha Gio ini layak disebut "menu Obama"? Dari segi rasa, ia jelas menyenangkan dan ramah di lidah. Namun soal efek kenikmatan, mungkin benar kata pepatah kuliner: selera memang bisa sama, tapi pengalaman tetap berbeda-apalagi kalau makannya sambil terjebak macet, bukan ditemani Anthony Bourdain.
(adr/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN