Bertaruh Nasib dari Penjualan Cup, Begini Curhatan Penjual Kopi Keliling

Bertaruh Nasib dari Penjualan Cup, Begini Curhatan Penjual Kopi Keliling

Sudrajat - detikFood
Sabtu, 07 Feb 2026 11:30 WIB
Penjual kopi keliling di kawasan Tendean, Jakarta Selatan.
Foto: Sudrajat
Jakarta -

Dua penjual kopi keliling di Tendean, Jakarta Selatan, mengungkap keseharian mereka. Mulai dari skema pendapatan hingga risiko yang harus ditanggung.

Rinai gerimis masih tersisa di kawasan Jakarta Selatan selepas salat Jumat. Namun cuaca yang basah tak menyurutkan kesibukan Muhammad Fajri, 32 tahun. Dengan cekatan, ia menyodorkan empat cup Butterscotch kepada Ridwan dan dua teman wanitanya. Di atas gerobak kopi keliling, Fajri terus melayani pesanan-satu per satu, nyaris tanpa jeda.

Sejak pukul 10 pagi, ia mengaku telah menjual sekitar 90 cup es kopi berbagai varian: Hazelnut, Vanilla, Butterscotch, hingga menu non-kopi seperti Es Coklat dan Lemonade. Harga per cup terbilang ramah kantong, berkisar antara Rp8.000 hingga Rp15.000. "Kalau Butterscotch, Rp10 ribu," kata Fajri, sembari menjentikkan abu rokok filternya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sudah lebih dari dua tahun Fajri menjalani profesi sebagai penjaja kopi keliling Kopi Sejuta Jiwa (KSJ) by Jiwa Group. Sebelumnya, ayah dua anak itu sempat beberapa tahun bekerja sebagai helper dapur di rumah makan Omah Sendok, Senopati. "Sekarang waktunya lebih longgar, pendapatan juga lumayan," ujarnya singkat.

Sebagai pedagang, Fajri menerima uang absensi harian Rp50 ribu. Dari setiap cup kopi yang terjual, ia mendapat fee sebesar 11 persen. Pada hari-hari cerah, penjualannya bisa menembus 200 hingga 300 cup. Namun cuaca-dan nasib-tak selalu berpihak.

ADVERTISEMENT

Jika kopi tak habis terjual dan dikembalikan pada hari yang sama, ia tak menanggung risiko. Tapi bila pengembalian molor keesokan hari, seluruh sisa kopi harus dibayar sesuai harga jual.

"Pernah sisa 20-an cup. Ya terpaksa saya bayarin semua. Saya minum sendiri sama istri, sebagian disedekahin ke tetangga," katanya, setengah tertawa, setengah pasrah.

Penjual kopi keliling di kawasan Tendean, Jakarta Selatan.Iwan Supriadi, salah satu penjual kopi keliling di kawasan Tendean, Jakarta Selatan. Foto: Sudrajat

Risiko semacam itu tak dialami Iwan Supriadi, 38 tahun. Sejak sembilan bulan terakhir, ia menjadi pedagang kopi keliling merek Calf. Sebelumnya, Iwan bukan orang baru di dunia kerja formal. Ia pernah menjadi tenaga pemasaran di sebuah bank BUMN (2012-2015), kemudian berlanjut ke Bank DKI dan perusahaan ekspedisi.

Namun faktor usia membuat pilihan lapangan kerja semakin sempit. Berjualan kopi akhirnya menjadi jalan yang realistis. "Pasca-Covid, saya dua tahun jual Sejuta Jiwa. Sekarang pindah ke Calf," ujarnya.

Harga produk Calf berada di atas Sejuta Jiwa, mulai Rp15.000 hingga Rp39.900 per cup atau kaleng. Varian andalannya antara lain Es Kopi Calf Premium (Arabika), Regular (Robusta), Oat Milk, serta seri Sweet Calf dan Smooth Series seperti Pistachio.

Skema pendapatan pun berbeda. Iwan menerima uang absensi harian Rp80 ribu, dan Rp75 ribu saat akhir pekan atau hari libur. Fee per cup sebesar Rp1.000 baru diberikan jika target penjualan 2.000 cup tercapai. "Alhamdulillah, saya bisa capai itu dalam tiga bulan," kata Iwan, yang mengaku masih melajang.

Jika pada hari kerja, mereka 'mangkal' di area perkantoran di Tendean, berbeda pada akhir pekan. Keduanya lebih memilih jualan di area yang banyak kos-kosan karyawan, seperti di kawasan Mampang VIII.

Menyoal tantangan berjualan, Iwan dan Fajri mengatakan, selain hujan ada tantangan lain segera menghadang: Ramadan. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, penjualan kopi anjlok drastis, sementara waktu berjualan makin pendek.

"Kalau Ramadan, saya masuk ke pemukiman. Biasanya dari habis Ashar sampai jam sembilan malam," ujar Iwan. Fajri bahkan mulai lebih awal, sejak selepas Zuhur. "Penjualan biasanya enggak sampai 100 cup," katanya pelan.

(adr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads