Lezatnya Melegenda! Sate Ayam Kampung Yayu Sejak 1950 di Pangandaran

Lezatnya Melegenda! Sate Ayam Kampung Yayu Sejak 1950 di Pangandaran

Aldi Nur Fadillah - detikFood
Selasa, 27 Jan 2026 15:00 WIB
Sate Yayu Ris yang melegenda di Pangandaran
Foto: Aldi Nur Fadillah
Pangandaran -

Di Pangandaran ada kuliner sate legendaris yang bertahan sejak 1950. Namanya Sate Ayam Kampung Yayu yang istimewa dengan pemakaian jenis ayam kampung!

Tersembunyi di dalam Pasar Pananjung, Pangandaran, yang merupakan jantung kota di wilayah wisata tersebut, ada Sate Ayam Kampung Yayu yang cocok buat para foodies. Sate ini ditawarkan oleh keluarga Sarno sejak tahun 1950-an. Karena itu, dikenal juga dengan sebutan Sate Sarno.

Sate di sini istimewa karena memakai ayam kampung betina sebagai bahan utama. Setelah puluhan tahun, usaha ini diwariskan kepada putrinya, Yayu Ris, yang kini menjaga resep asli sate ayam kampung tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dahulu, Pasar Pananjung merupakan pusat jual beli bagi para menak dan warga Belanda. Saat itu, lapak pedagang masih beralaskan tanah dengan ruko kayu beratap daun dahon.

Suasana Pasar Pananjung tahun 1943 ini bahkan terekam dalam arsip Belanda bertajuk Tailie, J.C./Dienst voor Legercontacten Indonesie/Wiki Commons. Sejak pasar itu berdiri, sate ayam kampung milik keluarga Sarno telah setia melayani para pelancong.

ADVERTISEMENT

Kini, usaha tersebut dilanjutkan oleh generasi ketiga, Endang (50), yang merupakan putra dari Yayu Ris. Di tangan Endang, kuliner ini kian populer di telinga wisatawan dengan sebutan Sate Legend Yayu Ris.

"Ibu sekarang sudah tua dan sakit-sakitan, jadi saya teruskan sebagai anak tunggal," ucap Endang kepada detikJabar, Kamis (22/1/2024).

Saat mengunjungi jongko Sate Yayu Ris, suasana lawas masih terasa kental. Kursi dan meja kayu serta tempat pembakaran besi dengan arang batok kelapa menghadirkan aroma khas yang menggugah selera. Jongko seluas 3x4 meter itu sudah diburu pembeli sejak pukul 06.00 WIB. Jam operasional ini tergolong unik, mengingat mayoritas penjual sate di Pangandaran baru buka pada sore hingga malam hari.

Sate Yayu Ris yang melegenda di PangandaranEndang, generasi ketiga usaha Sate Yayu Ris yang melegenda di Pangandaran. Foto: Aldi Nur Fadillah

Tak sampai siang, sekitar pukul 10.00 WIB, sate biasanya sudah ludes jika wisatawan sedang ramai. Meski lokasinya agak masuk ke dalam pasar, pelanggan tetap setia mencari. Bagi Endang, memori berjualan di Pasar Pananjung yang paling membekas adalah suasana sekitar tahun 1980-an.

"Kalau mulai jualan di pasar ini seingat saya sejak 1980-an, hanya pindah tempat saja. Zaman kakek memang di sebelah barat, waktu itu di sini masih kebun cokelat," kata Endang di sela-sela melayani pelanggan. Menurutnya, pasar tersebut baru direnovasi menjadi bangunan permanen sekitar tahun 1990-an.

Meskipun Endang adalah anak tunggal, ia mengizinkan keponakan dan saudaranya untuk membuka cabang guna melebarkan sayap bisnis keluarga. Saat ini, cabang Sate Ayam Kampung Yayu sudah tersebar di empat titik, yakni di Pasar Pananjung, samping Hotel MS Pantai Pangandaran, depan SMKN 1 Pangandaran, dan depan Terminal Budiman.

Pelanggannya pun bukan orang sembarangan. "Ada keluarga BHH Bandung, pemilik Cardinal, selalu ke sini. Sampai cucunya sekarang masih sering mampir. Banyak juga keluarga Tionghoa yang langganan sejak zaman kakek," tuturnya.

Secara rasa, sate ini memiliki karakter khas. Meski ayam kampung identik dengan tekstur yang alot, sate Yayu Ris justru terasa empuk karena teknik marinasi yang khusus. "Kelebihannya karena daging dimarinasi dulu, khusus pakai ayam betina, ditambah acar dan gulai tulang-taleng," ungkap Endang.

Sate Yayu Ris yang melegenda di PangandaranSate Yayu Ris menjajakan sate dengan gulai tulang-taleng gratis. Foto: Aldi Nur Fadillah

Gulai tulang-taleng ini disajikan gratis di meja sebagai menu tambahan. Untuk harga, satu porsi sate dibanderol Rp30.000, sudah termasuk nasi, acar, gulai ayam, dan sayur. Saat semua komponen itu berpadu dengan bumbu kacang dan acar cabai hijau, gigitan pertama langsung menghadirkan sensasi gurih yang membuat lidah berdansa.

Dalam sehari, Endang mampu menjual 300 hingga 500 tusuk sate. Nuryani, salah satu pelanggan setia, mengaku sudah menyukai sate ini sejak kecil. "Rasanya konsisten, apalagi bukanya pagi hari, cocok sekali untuk sarapan," ujarnya. Hal senada diungkapkan Mina, yang menyukai tekstur ayam kampung yang jauh lebih gurih dibanding ayam negeri.

Artikel ini sudah tayang di detikJabar dengan judul Sate Ayam Kampung Yayu: Kuliner Legendaris Pangandaran Sejak 1950

(adr/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads