Dampak Pandemi, Penjualan Manisan Salak King Salacca Turun 80 Persen

ADVERTISEMENT

Dampak Pandemi, Penjualan Manisan Salak King Salacca Turun 80 Persen

Eko Susanto - detikFood
Rabu, 11 Agu 2021 14:30 WIB
Dampak Pandemi, Penjualan Manisan Salak King Salacca Turun 80 Persen
Foto: Eko Susanto
Magelang -

Pandemi Covid-19 berdampak hebat pada bisnis manisan salak King Salacca di Magelang. Diakui produsen, penjualannya turun hingga 80 persen!

Pembuat manisan salak di wilayah Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terdampak pandemi Covid-19. Jika sebelum pandemi produsen hampir tiap hari membuat manisan, sekarang ini hanya seminggu sekali, bahkan terkadang dua minggu sekali.

"Dulu (sebelum pandemi) minimal saya seminggu 4 kali membuat manisan salak, sekarang cuma satu kali, kadang-kadang setengah bulan sekali," kata Moh Zito (60), salah satu pembuat manisan salak saat ditemui detikcom di rumahnya di Dusun Lembar, Desa Polengan, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, Selasa (10/8/2021).

Moh Zito yang biasa dipanggil Moh tersebut memulai membuat manisan salak semenjak 2014. Awalnya ia hanya mencoba-coba. Kemudian, pada tahun 2015 menjelang Lebaran, Moh menemukan inovasi manisan salak yang pas dan dipertahankan sampai sekarang.

Inovasi ini dilakukan mengingat kawasan Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang adalah penghasil buah salak. Kemudian, saat panen raya harga buah salak di pasaran hanya Rp1.000, Rp1.500 dan paling tinggi Rp2.000. Hasil penjualan buah salak tersebut dirasa tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan.

Salak fruit is a tropical fruit native from Java island, IndonesiaDampak Pandemi, Penjualan Manisan Salak King Salacca Turun 80 Persen Foto: Getty Images/iStockphoto/JOKO SL


"Kalau pas panen harganya cuman Rp1.000, Rp1.500, paling tinggi Rp2.000. Untuk kebutuhan tidak cukup. Terus saya punya pikiran, punya pandangan membuat manisan salak. Mencoba buat, setahun berjuang dari 2014 sampai bisa menemukan baik pada tahun 2015. Alhamdulillah pada tahun 2015 mau Lebaran buat manisan jadi. Ya seperti ini, apik terus dipertahankan, dipelajari terus biar semakin baik," ujarnya yang juga Kepala Dusun Lembar itu.

Ia menuturkan, awalnya membuat manisan salak yang diberi merek King Salacca ini hanya melibatkan anggota keluarganya. Namun lambat laun, 10 perempuan di sekitar rumahnya ikut bantu membuat manisan salak.

"Saya ajak warga sekitar sini membantu membuat manisan. Dulunya hanya dikerjakan orang rumah, manisan mulai laku mengajak tetangga. Sebelum pandemi saat ramai ada 10 orang ibu-ibu yang membantu. Setelah pandemi ini, sementara cuman orang dua orang," tuturnya.

Ia menceritakan, sebelum pandemi dalam sehari minimal mengolah 50 kg buah salak sampai 70 kg untuk membuat manisan. Kemudian, menjelang Lebaran hingga sampai 1 kuintal salak dibuat manisan.

"Dulu (sebelum pandemi) produksi tiap hari minimal 50 kg salak sampai 70 kg. Kalau mau Lebaran sampai 1 kuintal. Pandemi sekarang, satu minggu cuman 30 kg, kadang-kadang nggak bikin," ujarnya.

Dampak Pandemi, Penjualan Manisan Salak King Salacca Turun 80 PersenDampak Pandemi, Penjualan Manisan Salak King Salacca Turun 80 Persen Foto: Eko Susanto


Adapun keistimewaan dari King Salacca ini, katanya, tidak menggunakan bahan pengawet. Kemudian harga murah, namun bukan berarti murahan. Bahkan produk ini pernah mengikuti perlombaan dan dipesan juri agar tetap dijaga kualitasnya.

"Saya senang manisan salak ini tidak memakai bahan pengawet. Bisa awet, tapi tidak pakai bahan pengawet. Terus harga murah, tapi tidak murahan. Dulu pernah lomba Krenova di Bappeda dipesan agar menjaga kualitasnya," katanya.

Pihaknya mengaku telah melatih sekitar ratusan orang dari wilayah Kecamatan Srumbung untuk membuat manisan salak. Kemudian, manisan salak yang diproduksinya diambil pembeli dari Prambanan, Ngluwar, Gunungpring dan laku sebagai oleh-oleh.

Selain itu, penjualan online dilakukan oleh anak-anaknya. Namun demikian, semenjak adanya pandemi kemudian penutupan destinasi wisata berdampak pada penjualannya. Untuk penjualan manisan salak diakui menurun hingga 80 persen.

"Berdampak sekali menurunnya hampir 80 persen (penjualan). Dulu sering diambil bakul dari Prambanan, Ngluwar, buat oleh-oleh jenguk saudara dan lainnya," pungkasnya.



Simak Video "Melihat Produksi Mie Lethek, Kuliner Khas Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(adr/adr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT