Cerita Penjual Kopi Keliling Kejar-Kejaran dengan Satpol PP Selama PPKM Darurat

Mochamad Saifudin - detikFood Kamis, 15 Jul 2021 10:15 WIB
Cerita Penjual Kopi Keliling Kejar-Kejaran dengan Satpol PP Selama PPKM Darurat Foto: Mochamad Saifudin
Demak -

PPKM Darurat di Demak juga berdampak pada penjual kopi keliling. Mereka harus kejar-kejaran dengan Satpol PP dan merasakan sepi pembeli.

Penjual kopi keliling di Kabupaten Demak, Jawa Tengah mengeluh pembeli sepi lantaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat. Penjual kopi keliling menggunakan sepeda motor itu mengaku hanya membawa pulang Rp 30 ribu setelah bekerja pukul 02.30 - 24.00 WIB.

"Seharian ini belum dapat uang," keluh penjual kopi keliling, Slamet (60) saat dijumpai detikcom di depan radio suara kota wali (RSKW), Rabu (14/7/2021) sore.

Slamet biasa mangkal di beberapa tempat. Seperti halnya di Taman Mahesa Jenar, depan Bank BRI Bogorame, depan RSKW, dan depan RSUD Sunan Kalijaga.

Cerita Penjual Kopi Keliling Kejar-Kejaran dengan Satpol PP Selama PPKM DaruratCerita Penjual Kopi Keliling Kejar-Kejaran dengan Satpol PP Selama PPKM Darurat Foto: Mochamad Saifudin

Slamet mengaku saat PPKM Darurat ini pendapatannya berkurang jauh. Dia menjelaskan lantaran jarangnya orang keluar rumah dan jam pembatasan malam.

"Empat hari ini sepi. Kemarin saya hanya bawa pulang uang Rp 30 ribu, terus saya kasihkan istri saya," terang Slamet.

Slamet mengatakan dalam sehari dirinya bisa mendapatkan omset Rp 150-200 ribu, berangkat pukul 02.30 - 24.00 WIB. Namun selama tiga hari belakangan ia merasakan pendapatannya turun drastis.

"Biasanya pembeli di halaman RSUD Sunan Kalijaga sering beli, ini sepi," terang Slamet yang sudah menekuni jualan kopi keliling selama sekitar 10 tahun.

Cerita Penjual Kopi Keliling Kejar-Kejaran dengan Satpol PP Selama PPKM DaruratCerita Penjual Kopi Keliling Kejar-Kejaran dengan Satpol PP Selama PPKM Darurat Foto: Mochamad Saifudin

Slamet bercerita selama PPKM ini selain pendapatannya yang tak menentu, dirinya juga mengaku kerap kejar-kejaran dengan Satpol PP. Pasalnya sejumlah tempat umum dibatasi dari penjual kaki lima untuk menghindari kerumunan.

"Sebelumnya kejar-kejaran dengan Satpol PP. Kalau di Taman Mahesa Jenar dikejar, saya lari (jualan) di depan RSKW sini," ujar pria asal Boyolali itu.

Slamet menjelaskan bukannya dia tak patuh terhadap peraturan pemerintah, namun dirinya juga harus mencari nafkah dengan jualan kopi keliling satu-satunya itu. Slamet yang memiliki dua cucu tersebut juga nampak mengenakan masker dalam berjualan.

Slamet menambahkan perantauan sudah ia rasakan sejak muda. Dia mengaku pernah di Kalimantan selama 25 tahun, sementara di Demak 15 tahun lantaran bertemu dengan jodohnya.



Simak Video "Cara Unik Penjual Soto di Boyolali Ingatkan Aturan Makan 20 Menit"
[Gambas:Video 20detik]
(adr/adr)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com