Bubur Jamu Coro Warisan Kesultanan Demak Bintoro Ini Diracik dengan 15 Rempah

Mochamad Saifudin - detikFood Senin, 12 Jul 2021 11:30 WIB
Bubur Jamu Coro Warisan Kesultanan Demak Bintoro Ini Diracik dengan 15 Rempah Foto: detikcom/Mochamad Saifudin
Demak -

Bubur jamu coro khas Demak ini laris di saat pandemi. Diracik dengan 15 rempah sehingga menghangatkan dan menyehatkan tubuh. Lembut beraroma rempah yang harum.

Bubur jamu Coro dengan pelafalan huruf "o" yang mendekati "coro" atau sebuah "cara/upaya" dalam bahasa Jawa tersebut merupakan warisan nenek moyang sejak zaman Kasultanan Demak Bintoro. Disebut juga dengan jamu coro. Tidak berupa cairan layaknya racikan jamu. Tetapi berbentuk bubur halus creamy dengan paduan rempah yang pekat. Karenanya sering disebut jamu bubur coro.

Satu pedagang Bubur Jamu Coro di Jalan Bhayangkara di perempatan Kali Tuntang, Sri Puji Utami (41) sudah berjualan bubur jamu coro sejak 25 tahun. Ia mengatakan jamu yang tampilan seperti bubur tersebut memiliki campur 15 rempah lebih.

"Jamu Coro ini dipercaya pembeli sebagai obat penangkal Corona, soalnya corona ini kan efeknya membuat dada sesak, pilek, menyerang bagian dalam manusia. Lalu jamu coro ini cocok dikonsumsi karena terdapat ramuan-ramuan jamu yang bisa menstabilkan tubuh," jelas Utami saat ditemui di gerobak lapaknya, pekan ini (11/7).

Utami menuturkan bahan campuran rempah dari rasa jamu coro yang dominan jahe tersebut. Seperti akar wangi, pekak, serai, jahe, kayu manis, cabe kuyang, air pandan, dan lainnya.

"15 macam rempah lebih," ujarnya.

Bubur Jamu Coro Warisan Kesultanan Demak Bintoro Ini Diracik dengan 15 RempahBubur Jamu Coro Warisan Kesultanan Demak Bintoro Ini Diracik dengan 15 Rempah Foto: detikcom/Mochamad Saifudin

Diracik dengan resep warisan

Berjualan selama 25 tahun Utami selalu menggunakan bahan rempah berkualitas bagus. Salah satunya menggunakan jahe jenis emprit agar bisa memberikan cita rasa pedas, segar, dan hangat. Selain dipercaya sebagai penangkal Corona, jamu ini juga memiliki banyak manfaat seperti halnya menambah nafsu makan, bikin kulit segar, tubuh menjadi hangat, dan lainnya.

"Saya pakai jahe emprit, karena citarasanya yang khas bisa memberikan rasa hangat, pedes, sedep. Jahe itu diparut dulu lalu diambil sarinya. Saya pun setiap hari minum," ujarnya.

Utami tertarik berjualan jamu coro karena prihatin dengan banyaknya makanan atau minuman baru yang memakai bumbu campuran kimia. Keresahan itu yang membuat dirinya mengembangkan jamu coro warisan nenek moyang tersebut.

Awalnya ia menggunakan gendongan untuk berjualan jamu tersebut dengan jalan kaki keliling rumah warga. Kini ia bersama anaknya berjualan dengan gerobak di tempat kuliner sore Kali Tuntang.

"Saya lihat makanan sekarang banyak yang aneh, contohnya pake bumbu bumbu penyedap, itu saya tidak suka. Bahan bahan makanan sekarang kan banyak yang pakai bahan pengawet, terus saya punya ide untukngembangin jamu coro. Jamu coro ini kan sudah lama, dari nenek moyang. Saya kembangkan, saya perkenalkan diDemak karena sebelumnya sudah mau hilang. Terus saya jualan pake gerobak dorong. Sebelumnya kan digendong, keliling gitu," ujarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Sensasi Makan dan Bermain Air di Sungai "
[Gambas:Video 20detik]

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com