Bubur Jamu Coro Warisan Kesultanan Demak Bintoro Ini Diracik dengan 15 Rempah

Mochamad Saifudin - detikFood Senin, 12 Jul 2021 11:30 WIB
Bubur Jamu Coro Warisan Kesultanan Demak Bintoro Ini Diracik dengan 15 Rempah Foto: detikcom/Mochamad Saifudin

Dulunya penjual jamu coro menjual menggunakan klenting atau gentong dari tanah liat yang digendong menggunakan anyaman bambu. Sementara gayung untuk mengambil jamu coro tersebut juga berbahan bambu seperti halnya timba yang terdapat pengaitnya, sehingga fleksibel menyesuaikan ukuran lubang klenting yang relatif kecil.

"Dunak atau gendongan dari anyaman bambu, dunak itu digendong, di dalamnya klenting atau gentong dari tanah liat. Klenting itu karena mulutnya kecil, mengambilnya dengan cara diambil pakai gayung, gayungnya seperti timbo.
Gayung itu semacam bambu, saat dicelupkan bisa bergoyang menyesuaikan lubang terus diambil airnya terus diambil. Waktu masuk itu bunyi 'blung', maka anak anak kecil zaman dulu diberi nama wedang blung," ujar Widodo.

"Itu digendong, dulu yang jualan itu ibu-ibu seperti jamu gendong itu," imbuh Widodo.

Widodo menambahkan, jamu coro tersebut selain sebagai salah satu kuliner yang bisa dijual, juga kerapkali tersedia saat acara hajatan. Salah satu alasannya bisa memberikan rasa hangat bagi tamu undangan.

"Perkembangan ke sini jamu coro tidak memakai media semacam itu, bahkan untuk disajikan dalam pertemuan hajatan, tahlilan, itu biasanya masing-masing punya inisiatif untuk menyajikan jamu coro tersebut, agar hangat karena di dalamnya kan ada rempah-rempahnya," tuturnya.

Halaman
1 2 3 Tampilkan Semua


Simak Video "Pepes Bluluk, Cita Rasa Pepes Tak Biasa dari Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]

(dfl/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com