Bubur Jamu Coro Warisan Kesultanan Demak Bintoro Ini Diracik dengan 15 Rempah

Mochamad Saifudin - detikFood Senin, 12 Jul 2021 11:30 WIB
Bubur Jamu Coro Warisan Kesultanan Demak Bintoro Ini Diracik dengan 15 Rempah Foto: detikcom/Mochamad Saifudin

Omsetnya Rp 1 Juta selama pandemi

Bubur Jamu Coro Warisan Kesultanan Demak Bintoro Ini Diracik dengan 15 RempahBubur Jamu Coro Warisan Kesultanan Demak Bintoro Ini Diracik dengan 15 Rempah Foto: detikcom/Mochamad Saifudin

Utami menuturkan peminat jamu tersebut kian ramai, ia berjualan dari pukul 15.00 - 17.30 WIB dan selalu habis diburu warga. Setiap hari ia membuat bahan jamu tersebut sebanyak 6 kilogram atau satu dandang.

"Menjelang maghrib sudah habis. Alhamdulillah peminatnya meningkat terus. Dari saya sendiri tidak punya pegawai, saya gak berani nambah pegawai karena terkendala biaya," ujar Utami warga asal Krapyak, Bintoro, Demak tersebut.

Sementara anak Utami, M Latif Awalludin (20) menuturkan omset jamu coro tersebut diakuinya meningkat sejak adanya corona. Dalam sehari sehari bisa Rp 1 juta lebih dari yang semula Rp 900 ribu per hari. Satu orsi jamu coco dijual Rp 2.500.

Jamu coro sudah menjadi pelanggan tetap di sejumlah instansi pemerintah. Salah satunya Polda Jateng setiap Jumat Pagi.

"Setiap Jumat, saya selalu kirim satu dandang ke Polda Jateng,Semarang, pagi habis polisi senam itu. Sudah 10 tahunan langganan. Jadi kalau Jumat kitagak jualan," ujar Latif.

Awalnya bernama wedang blung

Bubur Jamu Coro Warisan Kesultanan Demak Bintoro Ini Diracik dengan 15 RempahBubur Jamu Coro Warisan Kesultanan Demak Bintoro Ini Diracik dengan 15 Rempah Foto: detikcom/Mochamad Saifudin

Sementara Kepala UPTD Museum Glagah Wangi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak, Ahmad Widodo mengatakan nama populer jamu tersebut sebelumnya adalah wedang 'blung'. Karena bunyinya 'blung' saat diambil dari wadahnya. Widodo menyebut, jamu coro sudah ada sejak zaman Kasultanan Demak Bintoro sebagai ibukota dengan pusat perdagangan.

"Yang jelas, sejak saya kecil belum lahir itu sudah ada jamu coro. Dulu nama populernya di kalangan anak-anak itu wedang 'blung' karena pada saat diambil, mengambilnya itu berbunyi 'blung'. Karena wadahnya klenting (gentong) yang mulutnya kecil dan diambil pakai gayung dari bambui," jelas Widodo kepada detikcom 11/7).

"Mungkin saja memang betul minuman jamu coro itu sejak zaman kasultanan. Zaman kerajaan pun di Demak ini pusatnya rempah-rempah juga. Dari daerah-daerah lain ditampung di Demak, ibukota, setelah itu baru disalurkan ke negeri lain. Contoh salah satunya Aceh, Timur Tengah, Belanda, itu kan mungkin saja," sambung Widodo.

"Entah itu duluresepnya dari China atau Arab yang jelas di sini dulu pusatnya rempah-rempah. Karena termasuk ibukota, karena ibukota kan pusatnya perdagangan. Selain itu Kita melihatgeografisnya di daerah sekitar DesaPoncoharjo danKarangmlati itu termasuk daerah bersejarah. DukuhPoncowati DesaPoncoharjo tempatbermukimnyaKanjeng Sunan Kudus waktu itu. DesaKarangmlati ada DukuhSodagaran ini orang orangsodagar dulu tempatnya di situ. Sedangkan sampai sekarang dan sudah jarang (membuat jamu coro) yang masih membikin itu DesaPoncoharjo, Kecamatan Bonang. Nah inikan ada rentetan rentetan sejarah zaman dahulu," terangnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Pepes Bluluk, Cita Rasa Pepes Tak Biasa dari Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com