Kue Lopis Tradisi Syawalan Warikan Filosofi dari Presiden Sukarno

Robby Bernardi - detikFood Kamis, 20 Mei 2021 12:00 WIB
Kue Lopis Tradisi Syawalan Warikan Filosofi dari Presiden Sukarno Foto: detikFood/Robby Bernardi
Pekalongan -

Kue lopis yang empuk mulur paling enak dicocol kelapa parut atau kinca. Kue lopis tradisi syawalan di Pekalongan ini punya filosofi dari Presiden Sukarno.

Di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, ada makanan yang sangat legendaris. Namanya kue Lopis atau Lupis. Kue berbahan dasar beras ketan ini, banyak ditemukan di Krapyak, Kota Pekalongan, terutama pada puncak syawalan.

Syawalan atau lebaran ketupat digelar pada hari ke tujuh setelah Idul Fitri. Biasanya warga menyiapkan Kue Lopis di acara syawalan itu. Namun, pendemi Corona dua tahun ini, perayaan kue lopis raksasa ditiadakan.

Kue Lopis Tradisi Syawalan Warikan Filosofi dari Presiden SukarnoKue Lopis Tradisi Syawalan Warikan Filosofi dari Presiden Sukarno Foto: detikFood/Robby Bernardi

Kue Lopis Pekalongan memang legendaris . Bahkan, kue ini, pernah juga dicicipi Presiden RI pertama, Ir Soekarno, saat berkunjung ke Kota Pekalongan pada tahun 1960-an. Soekarno juga mengatakan bahwa kue lopis ada filosofinya.

Arif Dirhamsyah, pengamat sejarah di Kota Pekalongan, pada detikcom, Rabu (19/05), mengatakan hal senada.

"Beliau (Soekarno), saat berkunjung ke Kota Pekalongan sekitar tahun 1960-an, pernah mencicipi kue lopis. Dan menjelaskan filosofi yang ada di kue lopis," kata Dirham, pada detikcom.

Kue Lopis Tradisi Syawalan Warikan Filosofi dari Presiden SukarnoKue Lopis Tradisi Syawalan Warikan Filosofi dari Presiden Sukarno Foto: detikFood/Robby Bernardi

Menurut Dirham Presiden RI pertama tersebut, menjelaskan soal filosofi yang ada di kue lopis yang berbahan beras ketan itu.

"Pernyataan beliau, diceritakan turun temurun oleh warga kota Pekalongan.
Banyaknya butiran beras ketan yang dijadikan satu wadah yang menggunakan daun pisang, kemudian dikukus, semakin lama, maka akan semakin menyatu, lengket tidak terpisahkan satu sama lainnya," tambah Dirham.

Filosofinya, menurut Dirham, Soekarno saat itu mencotohkan bahwa banyaknya butiran beras ketan akan menyatu. Bahkan semakin lama akan semakin lengket saat dikukus dan menjadi kue lopis.

Kue Lopis Tradisi Syawalan Warikan Filosofi dari Presiden SukarnoKue Lopis Tradisi Syawalan Warikan Filosofi dari Presiden Sukarno Foto: detikFood/Robby Bernardi

"Maknanya, ya persatuan dan kesatuan. Banyaknya butiran beras ketan, akan menyatu satu sama lainnya, saling mengeratkan satu sama lainnya," jelasnya.

Kue lopis sendiri memang diakui Dirham, dibuat warga di Kota Pekalongan saat syawalan.

"Biasanya setelah perayaan idul Fitri, warga kota Pekalongan akan kembali berpuasa, hingga enam hari. Saat hari ketujuh inilah, warga merayakan dengan membuat kue lopis untuk menjamu sanak saudara dari luar kota, saat bersilaturahmi," ucapnya.

Tidak heran, jika kue lupis akan ada pada hari ketujuh setelah idul Fitri.

"Tradisi itu sudah ada sejak turun-temurun. Sebetulnya tidak hanya lopis saja, namun juga ada lotis atau rujak buah-buahan dan sambal gula Jawa," kata Dirham.

Kue Lopis Tradisi Syawalan Warikan Filosofi dari Presiden SukarnoKue Lopis Tradisi Syawalan Warikan Filosofi dari Presiden Sukarno Foto: detikFood/Robby Bernardi

Saat ini, untuk menemukan lapak kue lopis, tidak terlalu sulit. Para pedagang Lopis menjajakan dagangannya di beberapa jalan di Kota Pekalongan, seperti Jalan Truntum, Jalan Jlamprang dan Jalan Jatayu.

Pembuat kue lopis di Kota Pekalongn sendiri cukup banyak, bahkan hingga ratusan perajin. Kebanyakan warga Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara.

Usmanhusin (77) warga Krapyak yang masih setia membuat lopis. Sudah 20 tahun, Usman membuat kue lolos saat syawalan. Ia juga berjualan kue lopisnya Jalan Truntum. Menurutnya, sekali memasak, ia menghabiskan sekitar 3-4 kwintal beras ketan. Untuk memasaknya, diperlukan waktu 1-2 hari bergantung dari ukuran lopis.

"Masaknya memakan waktu dua hari. Saya masaknya pakai tungku (kayu bakar). 4 kwintal (400 kg) beras ketan, menghasilkan sekitar 300-500 lopis, bergantung ukuranya," kata Usman.

Kue Lopis Tradisi Syawalan Warikan Filosofi dari Presiden SukarnoKue Lopis Tradisi Syawalan Warikan Filosofi dari Presiden Sukarno Foto: detikFood/Robby Bernardi

Satu buah kue lopis yang bulat panjang berukuran lebih besar sedikit dari ukuran lontong ini, dijual Rp 10 ribu - Rp15 ribu. Di era pandemi ini, Usman mengaku penjualannya cukup terdampak sejak tahun kemarin. Namun, ia kemudian memasarkan melalui online.

"Awalnya mereka datang membeli untuk oleh-oleh dan suguhan pada saat festival lopis raksasa. Karena saat ini festival lopis raksasa ditiadakan, sehingga pelanggan kebanyakan membeli melalui Whatsapp. Untuk lopis sendiri tahan hingga 1 bulan lamanya,"katanya.

Kue Lopis ini, lebih enak dinikmati dengan cocolan kelapa parut atau kucuran kinco atau sirop gula Jawa.

Nuke Shalvia (38), warga Karanganyar mengaku jauh-jauh ke Kota Pekalongan hanya untuk membeli kue lopis.

"Kalau di Kota Pekalongan, kan terkenal syawalannya dengan kue lopis. Saya membeli. Paling enak memang dikasih parutan kelapa. Penjualnya sudah menyediakan. Rasanya gurih, enak dan padat," katanya.

"Rasanya kurang, jika syawalan ini tidak menikmati kue lopis," imbuhnya.

Perlu diketahui, sebelum adanya pendemi corona, warga masyarakat di Kota Pekalongan, merayakan puncak syawalanya di hari ke tujuh setelah lebaran dengan perayaan lopis. Biasanya, pemerintah kota Pekalongan, menggelar perayaan kue lupis raksasa. Namun, sudah dua tahun ini, ditiadakan karena akan memicu kerumunan ribuan warga di Krapyak.



Simak Video "Pepes Bluluk, Cita Rasa Pepes Tak Biasa dari Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]
(sob/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com