Ini Sebabnya Harga Ayam Naik Terus Selama Bulan Puasa

Tim Detikfood - detikFood Rabu, 28 Apr 2021 06:46 WIB
Harga daging ayam turun. Salah satunya di Pasar Tebet Timur, Jakarta Selatan Foto: Citra Fitri Mardiana/detikFinance
Jakarta -

Hari ini harga ayam di wilayah Jakarta mencapai Rp 45.000 per ekor. Selama bulan puasa harga ayam naik terus, ini sebabnya.

Harga ayam mengalami kenaikan yang cukup tinggi selama bulan Ramadhan. Berdasarkan catatan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), harga daging ayam di pasar sudah mencapai Rp 40.000-41.000/Kg. Bahkan, di wilayah DKI Jakarta, harga ayam mencapai Rp 45.000/ekor dengan berat rata-rata 0,95-1,05 Kg.

"Ayam ini salah satu komoditas yang sejak awal Ramadhan sampai detik ini belum pernah mengalami penurunan harga. Ini juga terjadi secara nasional," kata Ketua Umum (Ikappi) Abdullah Mansuri kepada detikcom, Selasa (27/4/2021).

Dilansir dari detikfinance (27/4) berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga daging ayam ras segar secara nasional ialah Rp 35.950/Kg. Namun, di beberapa provinsi, misalnya Nusa Tenggara Timur (NTT), harganya tembus Rp 48.500/Kg, di Bali Rp 44.500/Kg, dan di Nusa Tenggara Barat (NTB) Rp 43.900/Kg.

Sementara itu, harga ayam di DKI Jakarta berdasarkan Info Pangan Jakarta tembus Rp 40.558/ekor. Abdullah mengaku tak mengetahui apa penyebab harga ayam naik. Pasalnya, menurut Ikappi pasokan selalu aman, artinya masih dapat mengimbangi permintaan.

"Pasokan relatif aman, tidak pernah ada kekurangan komoditas. Dan ayam yang dipotong di pasar itu relatif sudah besar-besar. Artinya tidak dipercepat panennya. Kalau komoditas itu nggak banyak, biasanya yang di pasar itu ukurannya masih kecil-kecil tapi sudah dipotong. Kalau di pasar ayamnya besar-besar, berarti produksinya aman," papar Abdullah.

Pasar di JakartaIni Sebabnya Harga Ayam Naik. Foto: Eduardo Simorangkir

Sementara itu, menurut Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah Pardjuni, kenaikan harga ayam hanya terjadi di tingkat pedagang. Pasalnya, peternak masih menjual ayam hidup atau livebird di kisaran Rp 19.000-21.000.

"Untuk masalah harga memang yang sudah karkas (daging) biasanya pedagang-pedagang di pasar memang menaikkan harga dari harga sebelumnya. Jadi kalau harga Rp 20.000/Kg ayam hidup dari peternak, sebenarnya di pasar seharusnya di pasar Rp 32.000-34.000/Kg. Karena rumus pengalihannya harga di kandang dikalikan 1,6-1,7 dari harga di kandang. Jadi kalau harga Rp 40.000 memang mengambil untung kebanyakan," jelas Pardjuni.

Ia mengatakan, saat ini memang harga pokok produksi (HPP) ayam tinggi karena pasokan pakan menipis, dan harga pakan itu sendiri baik jagung maupun SBM sudah naik sejak awal 2021. Namun, para peternak masih menjual livebird tak jauh dari HPP.

"HPP di Jawa Tengah (Jateng) itu sudah Rp 19.500-20.000/Kg livebird. Kalau Jabar lebih tinggi Rp 1.000-1.500/Kg ayam hidup. Tapi sebenarnya angka yang kita jual itu ya sama seperti HPP," ungkap Pardjuni.

Ia mengatakan, peternak sudah bergulat dengan HPP yang tinggi, sementara harga jual tak jauh berbeda, bahkan sama. Tak hanya disebabkan oleh harga pakan yang tinggi, harga bibit atau day old chick (DOC) juga terus mengalami kenaikan, dan kini mencapai Rp 7.000/ekor.

"Ini beban berat buat peternak. Kalau ini dibiarkan terus, walaupun harga tinggi, peternak tidak untung," tutup dia.



Simak Video "Mengintip Warung Angkringan Milik Dimas Seto"
[Gambas:Video 20detik]
(odi/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com