Uyup-Uyup Jadi Incaran Ibu Menyusui di Bantul, Apa Itu?

Jihaan Khoirunnisaa - detikFood Selasa, 02 Mar 2021 14:37 WIB
Jamu Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Bantul -

Dusun Kiringan terkenal sebagai Desa Wisata Jamu Gendong. Di sana, mayoritas perempuannya menggantungkan hidup sebagai penjual jamu gendong, dan masih aktif berjualan hingga saat ini.

Mereka berkeliling menggunakan sepeda onthel ataupun sepeda motor untuk menjangkau pembeli di berbagai area di Yogyakarta.

Sagiyem, salah seorang penjual jamu di Kiringan mengatakan jamu yang dijualnya beragam, mulai dari kunir asem, beras kencur, galian singset, hingga uyup-uyup. Namun, ia mengaku beras kencur dan uyup-uyup menjadi varian jamu yang paling laris.

"Ya, uyup-uyup, beras kencur yang paling laris. Galian itu jarang," katanya kepada detikcom baru-baru ini.

Sama halnya dengan Sagiyem, Sunyi juga mengatakan hal yang sama. Beras kencur dan uyup-uyup jadi primadona di dagangannya.

"Kalau langganan saya, beras kencur sama uyup-uyup (yang dibeli)," ujarnya.

Uyup-uyup memang sudah terkenal di kalangan masyarakat pedesaan dan telah digunakan secara turun-temurun. Jamu ini banyak diminum oleh ibu-ibu menyusui, karena dipercaya mampu melancarkan dan meningkatkan produksi air susu ibu (ASI). Selain itu, uyup-uyup juga diyakini mampu meningkatkan kesuburan, sehingga wanita yang sudah menikah namun belum dikaruniai keturunan sangat dianjurkan untuk meminumnya secara rutin.

Racikan uyup-uyup umumnya menggunakan empon-empon seperti temulawak, temu ireng, kunir (kunyit) putih, jahe, temu giring, temu mangga, dan daun pepaya. Semua bahan tersebut digiling dan dipipis menjadi satu, baru kemudian diperas untuk mendapatkan sarinya.

Proses pembuatan jamuProses pembuatan jamu Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

"Uyup-uyup itu dibikin dari daun kates (pepaya), temu ireng, temu mangga, digiling, dipipis jadi satu, diperas. Itu sarinya yang bagus," jelas Sunyi.

Diungkapkan Sunyi, para ibu menyusui di wilayah Kiringan rutin minum uyup-uyup setiap hari. Jika tidak, anaknya menjadi rewel karena produksi ASI sedikit serta rasa ASI yang cenderung pedas dan tidak segar.

"Saya punya pelanggan, dia minum jamu uyup-uyup. Kalau nggak minum, rasa (ASI) pedas. Anaknya rewel, nggak segar air susunya. Bagus juga untuk menyusui. Sebenarnya diharuskan minum tiap hari uyup-uyup itu. Menyegarkan rasa," tuturnya.

Meski sudah memasuki era modern, nyatanya banyak masyarakat di Bantul yang masih doyan minum jamu, baik untuk memperlancar ASI maupun untuk manfaat kesehatan lainnya. Tidak heran jika jamu masih eksis bahkan hingga saat ini.

Guna mendorong industri jamu kiringan agar semakin berkembang, BRI telah memberikan bantuan. Adapun bantuan CSR tersebut meliputi gapura sebagai ikon desa, serta mesin giling dan genset untuk meningkatkan produksi jamu.

"Ada banyak UMKM di Bantul mulai dari perdagangan, pertanian, jasa, industri yang butuh sentuhan dari BRI. Salah satunya UMKM yang dikelola BRI Unit Jetis, yakni UMKM jamu Kiringan sudah terjalin lebih dari 5 tahun. Dari hubungan yang baik ini dan prospek dari pengelolaan jamu Kiringan, BRI telah memberikan bantuan CSR berupa tugu pintu masuk kampung jamu Kiringan. Di samping itu juga berupa mesin pembuatan jamu dan alat lainnya," pungkas Manager Bisnis Mikro BRI Bantul, Joko Wahyudiarto.

Ke depan, Joko menambahkan pihaknya juga akan memberikan bantuan CSR lainnya baik berupa alat pembuatan jamu atau pelatihan. Dengan begitu bisnis jamu di Kiringan bisa terus berkembang.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Gerabah Blitar Warisan Majapahit"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/ega)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com