Bocah, Milenial, sampai Emak-emak di Bantul Hobi Minum Jamu, Kok Bisa?

Inkana Putri - detikFood Senin, 01 Mar 2021 12:08 WIB
Dusun Kiringan di Jetis, Bantul menjadi salah satu sentra jamu yang terkenal di Jogja. Hampir seluruh ibu-ibu di sana merupakan penjual jamu keliling. Foto: Rifkianto Nugroho
Bantul -

Jamu memang menjadi salah satu minuman tradisional yang terkenal di Indonesia, khususnya bagi masyarakat Jawa. Di Indonesia, jamu biasanya dikonsumsi sebagai obat herbal untuk kesehatan.

Hingga saat ini masih banyak masyarakat yang meyakini jamu sebagai minuman berkhasiat untuk mengobati dan mencegah berbagai penyakit. Ibu dua anak, Mira (39) misalnya, ia mengatakan hingga saat ini masih mengonsumsi jamu untuk kelancaran produksi ASI-nya.

"Saya sudah minum jamu sejak lahiran anak sampai sekarang, mulai dari lahiran anak pertama sampai anak kedua. Tapi sekarang sudah jarang, dulu kalau baru habis lahiran setiap hari minum biar seger aja ASI-nya dan biar lancar," ujarnya kepada detikcom baru-baru ini.

Di samping itu, ibu-ibu di Bantul pun masih mempercayai jamu sebagai minuman berkhasiat untuk menambah nafsu makan anak. Triswanti (39) menyebut dirinya sering meminta penjual jamu untuk meminumkan jamu ke anaknya agar gampang makan.

"Ini jamu biar nafsu makan kalau orang Jawa namanya jamu pahitan. Kalau anak kecil kan biasanya susah makan, kalau lagi susah biasanya di cekok-in," ungkapnya.

Bukan hanya para ibu, di Bantul ternyata jamu juga masih jadi favorit milenial. Dyah (22) mengatakan dirinya rutin mengonsumsi jamu kunyit asem 2-3 hari untuk melancarkan menstruasi.

Dyah juga menyebut jamu juga menjadi minuman berkhasiat yang minim risiko di samping obat atau minuman lainnya.

"Menurut saya jamu itu meminimalkan risiko soalnya alami ya mbak natural jadi efeknya nggak (banyak). Soalnya kalau minuman atau obat lainnya nggak bisa (nerima) perutnya. Saya juga udah dari kecil kan biasanya orang Jawa dulunya dicekok," katanya.

Dusun Kiringan di Jetis, Bantul menjadi salah satu sentra jamu yang terkenal di Jogja. Hampir seluruh ibu-ibu di sana merupakan penjual jamu keliling.Dusun Kiringan di Jetis, Bantul menjadi salah satu sentra jamu yang terkenal di Jogja. Hampir seluruh ibu-ibu di sana merupakan penjual jamu keliling. Foto: Rifkianto Nugroho

Murjiwati, salah seorang penjual jamu mengaku menggeluti usaha jualan jamu yang telah diwariskan oleh leluhurnya. Bahkan, saat ini ia masih melestarikan jamu dengan berjualan di Bantul dan menjadi Ketua Koperasi Wanita Seruni Putih yang beranggotakan para penjual jamu di Dusun Kiringan, Canden, Jetis.

Banyaknya masyarakat Bantul yang masih doyan minum jamu memang jadi salah satu faktor eksistensi jamu saat ini. Namun, siapa sangka kalau jamu juga merupakan salah satu tradisi turun temurun yang hingga saat ini masih dilestarikan.

"Saya menjual jamu sejak tahun 1985, waktu itu umur 15 tahun sudah menekuni jual jamu. (Dulu) dari nenek saya, setelah nenek saya sudah tua itu ibu lanjutkan warisan (jualan jamu) yang menggantikan. Setelah itu si mbok saya sudah tua dan diganti saya. Dan sampai sekarang Alhamdulillah saya sudah berjualan jamu selama 35 tahun," katanya.

Selain masih tingginya antusias masyarakat Bantul, industri jamu di Bantul juga tak lepas dari dukungan pemerintah setempat. Salah satunya Dinas Pariwisata Bantul yang meresmikan Dusun Kiringan sebagai Desa Wisata Jamu.

"Jamu ini warisan budaya yang sudah cukup lama. Kebetulan di Bantul ada sentra jamu di Kiringan, Canden, Jetis. Awal mulanya kita melihat masyarakat di sana mayoritas jualan jamu. Lalu karena jamu merupakan produk dengan kualitas baik, Dinas Pariwisata Bantul melihat bagaimana agar desa ini memiliki daya tarik sebagai salah satu destinasi," ungkap Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Kwintarto Heru Prabowo.

"Jadi, ketika kami memberikan pembinaan dalam rangka mengembangkan inovasi jamu, BRI support di sana. Termasuk dalam hal permodalan karena tidak semua UMKM itu selalu punya modal," ujarnya.Tak hanya itu, Dinas Koperasi dan UMKM Bantul, Agus Sulistiyana pun turut mengembangkan industri jamu melalui berbagai program. Bahkan, Kepala Dinas Koperasi & UMKM Bantul mengatakan pihaknya bekerja sama dengan berbagai perusahaan salah satunya BRI mulai dari pelatihan hingga permodalan.

Terkait keberlangsungan industri jamu di Bantul, Manager Bisnis Mikro BRI Bantul, Joko Wahyudiarto juga mengatakan pihaknya akan memberikan bantuan lainnya baik berupa bantuan CSR atau pelatihan. Hal ini bertujuan untuk melestarikan dan memperluas eksistensi jamu.

"Dalam waktu dekat BRI akan memberikan bantuan CSR juga berupa peralatan pembuatan jamu berupa parut dan lain-lain sehingga pengembangan bisnis dari jamu Kiringan bisa terangkat. Bahkan, wacana ke depan kita harapkan ada semacam sekolah untuk belajar pembuatan jamu sehingga jamu akan lebih dikenal dan merakyat," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "#BRIBersamaUMKM"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com