Empuk Harum Roti Kuno di Toko Djoen Lama yang Berusia 85 Tahun

Jauh Hari Wawan S - detikFood Senin, 27 Jul 2020 11:30 WIB
Roti Kuno di Toko Djoen Lama Foto: detikFood/ Jauh Hari Wawan S
Yogyakarta -

Di tengah banyaknya bakery modern bermunculan, toko roti ini masih bertahan. Menyajikan beragam roti klasik yang empuk dan terjangkau harganya.

Penggemar roti pasti sudah tidak asing dengan roti Djoen atau yang saat ini bernama Bakery & Shop Djoen Lama. Terletak di Jalan Margo Mulyo No. 78, Yogyakarta. Tepat berada di ruas jalan kawasan Malioboro. Berjajar dengan toko oleh-oleh dan pedagang lain yang berada di emperan toko.

Toko roti legendaris itu sudah ada sejak 1935. Menempati bangunan tua berlantai dua. Aroma roti yang baru diangkat dari oven langsung menyeruak di seluruh ruangan. Wangi semerbak. Roti hangat pun tersaji setiap lepas tengah hari.

Roti Kuno di Toko Djoen LamaRoti Kuno di Toko Djoen Lama Foto: detikFood/ Jauh Hari Wawan S

Masuk ke toko roti Djoen Lama seakan masuk dalam lorong waktu ke masa silam. Interior dengan nuansa jadul masih kental. Rak toko berwarna merah jambu, kaleng-kaleng roti lawas masih terpajang di toko itu.

Di meja kasir, ada seorang wanita dengan wajah keriput sigap melayani pembeli. Dia adalah sang empunya toko Djoen Lama, Hardinah (84) atau yang biasa disapa Oma yang selalu menyambut dengan senyum pengunjung yang berbelanja.

Tak banyak tamu yang berlama-lama di bakery ini. Kebanyakan hanya datang dan pergi setelah memilih roti dan bertransaksi. Di toko, Oma Hardinah ditemani anakanya Widowati (50).

Roti Kuno di Toko Djoen LamaRoti Kuno di Toko Djoen Lama Foto: detikFood/ Jauh Hari Wawan S

"Mertua yang mulai dari 1930an, lalu saya ikut jualan sama mendiang suami sejak jadi mantu tahun 1959," kata Hadinah ditemui detikcom di toko Djoen Lama, Minggu (26/7/2020).

Roti pisang menjadi salah satu andalan toko Djoen Lama. Roti pisang legendaris itu diluncurkan pada tahun 1959 tepat setelah Oma menikah dengan Haryono Waluyojati (Tan Ing Hwat) pada tahun yang sama.

"Aku ditembung (diminta dijodohkan). Dulu sebelum nikah di Semarang, aku suka roti pisang. Pas nikah di sini, terus bikin roti pisang. Sebelumnya cuma ada roti gula Jawa yang spekuk itu, roti sobek, roti rol," ujar Oma sambil berdiri santai melayani tamu sekaligus bercerita.

Roti Kuno di Toko Djoen LamaRoti Kuno di Toko Djoen Lama Foto: detikFood/ Jauh Hari Wawan S

Djoen Lama berdiri tahun 1935 ketika mertuanya, Tan Lian Ngau memborong usaha sekaligus bangunan milik seseorang keturunan Tionghoa, Tan Poe Djoen asal Temanggung, Jawa Tengah.

"Tan Po Djoen ke sini (Yogyakarta) lalu pindah ke Belanda. Sebelumnya di sini sudah jualan roti juga, lalu dibeli mertua saya se-rumahnya beserta alat-alat pembuat rotinya," bebernya.

Tak ada catatan pastinya tentang tanggal pembelian ini selain dari memori keluarga. Toko Djoen Lama masih memproduksi roti lawasnya seperti Onbijtkoek (roti rempah ala Belanda), roti sobek polos, roti rol polos, dan roti semir.

Roti Kuno di Toko Djoen LamaRoti Kuno di Toko Djoen Lama Foto: detikFood/ Jauh Hari Wawan S

Setelah tahun 1959, toko Djoen mengeluarkan beberapa varian baru legendaris selain roti pisang. Munculah roti tawar, roti pisang, roti aneka isian serta topping, kue sus, kroket, biskut bagelen: roomboter 'Meila Chandra', hingga American-style doughnut.

Biskuit Bagelen Roomboter dengan merk Meila Chandra jadi salah satu sajian yang masih dipertahankan hingga sekarang. Oma pun menceritakan asal nama biskuit itu.

"Meila itu artinya 'nyempluk', 'nyenengke'. Itu panggilan buat Widowati," urainya.

Roti Kuno di Toko Djoen LamaRoti Kuno di Toko Djoen Lama Foto: detikFood/ Jauh Hari Wawan S

Oma bersikeras mempertahankan cita rasa dari roti buatannya. Bahkan mulai dari cara memasak hingga bahan yang digunakan tetap sama sejak dulu.

"Resepnya turun temurun, sampai sekarang masih sama," unkapnya.

Oma menceritakan sudah banyak yang berubah dari Djoen. Mulai dari luas bangunan yang digunakan hingga barang yang dijual.

"Dulu toko roti ini besar, sekarang dibagi dua gedungnya. Dulu rak-rak ini banyak sampai toko sebelah. Isinya macem-macem, selain roti ada stoples isi gula-gula. Rotinya macam-macam, juga jual sabun, odol," kenangnya.

Oma pun mengenang masa jaya Toko Djoen. Dulu, dia bisa memproduksi banyak roti dalam satu hari. Jangkauan pasarnya juga luas, tak seperti sekarang.

"Dulu toko ini ya bikin roti banyak, dijual sampai Wonosari, Klaten, Sleman, Muntilan," bebernya.

Roti Kuno di Toko Djoen LamaRoti Kuno di Toko Djoen Lama Foto: detikFood/ Jauh Hari Wawan S

Di usia Oma yang sudah terbilang senja, Widowati menjelma sebagai bidadari yang bakal meneruskan usaha roti legendaris ini. Dibantu oleh tiga orang pekerja yang setia membuat roti dengan oven jadul.

"Ya kami segini saja. Di belakang ada tiga orang pekerja yang membuat roti sejak dulu," kata Widowati.

Antara toko dan tempat produksi roti hanya dibatasi satu ruangan saja. Widowati pun mengizinkan untuk melihat proses pembuatan roti.

Masuk ke ruang produksi, nampak alat yang digunakan masih berupa oven batu jadul berukuran jumbo. Kira-kira berukuran 4x6 meter berbahan bakar solar. Cara memasak inilah yang membuat cita rasa roti Djoen tak berubah.

"Kalau pakai oven ini roti bisa matang pelan-pelan," jelasnya.

Kendati masa jaya Djoen Lama sudah lewat, Widowati sepakat untuk tidak menyerah. Walaupun pelanggan sudah tak seramai dulu tapi Widowati percaya, suatu hari Djoen akan ramai kembali.

Roti Kuno di Toko Djoen LamaRoti Kuno di Toko Djoen Lama Foto: detikFood/ Jauh Hari Wawan S

"Pelanggan nggak seramai biasanya. Dulu yang dari luar kota banyak, paling laris dulu ya sus kering. Sekarang paling orang-orang sini yang beli. Pelanggan yang lama memang masih ada tapi tidak banyak," ungkapnya.

Widowati menceritakan dulu dia punya pikiran untuk menutup toko. Apalagi dengan adanya pandemi Corona, ini membuatnya tak berjualan selama berbulan-bulan. Namun, Oma tetap bersikukuh agar usaha ini terus dipertahankan. Kini, selain Widowati, cucu-cucu Oma masih mau membantu berjualan.

Widowati sempat punya angan untuk merenovasi toko. Dia ingin membuat agar nuansa jadul dipadukan dengan bangunan lawas ala Eropa. Ditambah dengan sajian kopi. Tujuannya agar menarik pembeli masa kini.

"Mungkin suatu saat dibikin seperti kafe, tapi entah kapan. Sementara ya seperti ini dulu. Oma juga mintanya seperti ini saja dulu," ucapnya.

Roti Kuno di Toko Djoen LamaRoti Kuno di Toko Djoen Lama Foto: detikFood/ Jauh Hari Wawan S

Bagi pelanggan setia, merasakan roti Djoen ibarat kembali ke masa muda. Tamasya rasa dan nostalgia masa kecil, ibaratnya.

"Roti tawarnya ini mengingatkan saya sewaktu saya masih kelas V SD. Sering jajan ke sini," kata Ningrum (46) saat ditemui seusai membeli roti Djoen.

Ningrum, kini sudah tak lagi tinggal di Yogyakarta setelah pindah dari daerah Ngampilan ke Tangerang. Namun, mencecap lagi rasa roti Djoen beginya membuat ingat akan zaman dulu. Ada kenangan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Dia pun berharap, roti Djoen bisa bertahan. Dia ingin agar sesuatu yang bernilai terus hidup. Dia ingin kenangannya tidak mati.

"Saya sekarang tinggal di Tangerang, anak saya kuliah di Yogya. Setiap saya nengok anak saya, saya mampir ke sini. Ya saya merasanya seperti tinggal di mana pun pasti larinya ke sini. Saya tidak tahu kenapa. Tapi yang jelas ada sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang," pungkasnya.



Simak Video "Mencoba Thai Tea Kekinian, Murah dan Segar"
[Gambas:Video 20detik]
(sob/odi)