Penganiayaan Anjing di Bali, Ada Mitos Daging Anjing Lebih Enak Jika Dipukuli

Bayu Ardi Isnanto - detikFood Senin, 29 Jun 2020 18:31 WIB
Ada yang unik sekaligus menyedihkan di Pasar Tomohon di Minahasa, Sulawesi Tenggara. Pasar ini menyediakan bahan makanan yang bisa dibilang ekstrem. Pasar ini menyediakan bahan olahan makanan dari hewan-hewan yang tidak biasa seperti, Anjing, Kucing, kelelawar, ular pyton, biawak, Tikus hutan, dan beberapa hewan yang tidak lazim dijual di pasaran. Kebanyakan hewan yang dijual di pasar Tomohon sudah dalam keadaan mati dan terpanggang. Reno Hastukrisnapati Widarto/detikcom. Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto
Solo -

Kasus penganiayaan anjing di Bali berlanjut ke jalur hukum. Kejadian yang mirip juga ada di Solo. Karena mitos daging anjing lebih enak jika dipukuli sebelum dikonsumsi.

Salah satu pedagang kuliner anjing, S, mengatakan mitos tersebut memang diyakini oleh para pengusaha kuliner ekstrem itu. Rasa daging dinilai berbeda jika disembelih dengan cara biasa.

"Memang betul mitosnya seperti itu, rasanya lebih enak katanya," kata dia saat ditemui di warungnya, kawasan Banjarsari, Solo, Senin (29/6/2020).

Pasar Yuli Masih Jual Daging AnjingIlustrasi Hidangan Daging Anjing Foto: Humane Society International/AFP


Namun dia juga menyebut alasan lain para pedagang memukuli anjing terlebih dahulu sebelum memasak. Yakni karena mereka khawatir digigit saat menyembelih.

"Takut digigit kalau disembelih dengan cara biasa. Makanya anjing dimasukkan ke dalam karung dulu, baru dipukuli sampai mati, baru diproses," katanya.

Menurutnya, proses penyembelihan anjing membutuhkan waktu dua jam. Setelah dipukuli, anjing kemudian direbus untuk menghilangkan bulunya.

"Setelah itu kita cuci pakai sabun sampai bersih. Kemudian baru dipotong, dicacah, baru dimasak. Jadi memang kita bersihkan sampai steril, karena untuk dikonsumsi," ujar dia.

Mitos Daging Anjing Lebih Enak Jika DipukuliMitos Daging Anjing Lebih Enak Jika Dipukuli Foto: detikFood/Bayu Ardi Isnanto



Dia juga menjelaskan bahwa para pedagang hanya menggunakan anjing jenis liar. Dia mengaku tidak pernah menggunakan jenis anjing peliharaan.

"Biasanya beli dari Jawa Barat, Jawa Timur, itu anjingnya jenis liar, bukan peliharaan, anjing hias. Karena rasanya juga tidak enak," kata dia.

Sementara itu, koordinator komunitas Dog Meat Free Indonesia (DMFI) Solo, Mustika, menilai seharusnya proses hukum juga diterapkan secara tegas kepada pedagang kuliner anjing. Sebab mereka juga termasuk melakukan penganiayaan terhadap anjing.

Seperti di Bali, empat tersangka pemukulan anjing dijerat dengan Pasal 302 KUHP tentang Penganiayaan Hewan. Mereka diancam hukuman 9 bulan penjara.

Festival Daging Anjing di Yulin Foto: REUTERS



"Yang mereka lakukan itu kejam, bahkan saya anggap mereka itu punya masalah kejiwaan. Sebenarnya regulasinya sudah ada, tapi tergantung pemerintah mau menerapkannya atau tidak. Kita selama ini sudah mendorong," ujar Mustika saat dihubungi detikcom.

Menurutnya, tidak hanya proses penyembelihan yang dia soroti. Namun proses sebelum ke tangan pedagang pun dinilai sudah terjadi pelanggaran.

DMFI telah melakukan investigasi. Hasilnya, banyak anjing yang diperoleh dengan cara mencuri. Dalam prosesnya, anjing juga disebut mendapat perlakuan tidak layak, bahkan bisa membahayakan manusia.

"Dari proses pencarian anjing itu kan dilakukan dengan cara pencurian, kemudian anjing dikumpulkan hingga jumlah tertentu, membutuhkan waktu lama. Dalam waktu itu, anjing mengalami kondisi tidak layak, hingga hewan seperti gila, dan itu bisa menyebabkan rabies," tutupnya.



Simak Video "Masak Masak: Tips Bikin Cireng Kuah Rumahan"
[Gambas:Video 20detik]
(sob/odi)