Kedamaian dalam Semangkuk Teh
Senin, 21 Nov 2005 17:25 WIB
Jakarta - Jamuan minum teh bagi masyarakat Jepang atau yang biasa disebut dengan Chado merupakan salah satu tradisi yang tetap dijaga kelestariannya hingga saat ini. Mengapa demikian? Chado memiliki makna serta keuntungan yang sangat banyak. Tidak hanya baik bagi kesehatan saja, karena menggunakan bahan daun teh asli tanpa bahan kimia. Juga melatih kesabaran serta ketelatenan dalam berperilaku keseharian agar dapat meraih ketenangan dalam diri sendiri.Dibawa oleh para Biksu Zen setelah menimba ilmu di negeri Cina pada abad ke 13, bubuk teh berwarna hijau ini pada akhirnya menjadi suatu jamuan yang sangat populer di kalangan masyarakat Jepang. Berawal dari suatu cara meditasi dalam pengobatan tertentu, jamuan minum teh kemudian berkembang menjadi suatu seni yang mengandung unsur estetika yang mendominir kebudayaan Jepang. Pantas saja jika perkumpulan Chado menjamur tidak hanya di negeri asalnya, namun juga di beberapa negara di belahan dunia lainnya.Urasenke Tankokai Indonesia, merupakan salah satu perkumpulan jamuan minum teh Jepang di Indonesia. Berdiri sejak 19 Oktober 1987 dengan Honorary President; Prof. Dr. Sujudi (Mantan Menteri Kesehatan RI dan sekarang menjabat sebagai Ketua Palang Merah Indonesia) dan Honorary Advisor; H.E Yutaka Iimura (Duta Besar Jepang untuk Indonesia) beserta Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih (Mantan Menteri Pertanian RI). Dan hari Sabtu kemarin tepatnya tanggal 19 Nopember 2005, Urasenke Tankokai Indonesia merayakan ulang tahun yang ke 18. Program acara, selain untuk memperkenalkan tata cara Chado juga untuk memperkenalkan pengurus serta anggota Urasenke Tankokai ini kepada publik.Dalam acara tersebut turut diperagakan rangkaian Upacara Minum Teh Jepang, mulai dari Obondate, Hirademae, Misonodana hingga Kagetsu. Semua anggota Urasenke yang kala itu berpakaian kimono dengan aneka warna dan motif berpartisipasi menunjukkan keahliannya meracik serta meminum teh. Acara minum teh ini tidak memperdulikan status sosial, senioritas maupun tingkat pendidikan. Siapa pun dalam keanggotaan, berhak untuk dilayani serta melayani sesama anggotanya. Di sinilah, kesetaraan benar-benar dijunjung tinggi dan sama sekali tidak ada diskriminasi. Tujuan dari menghidangkan dan menerima semanguk teh dilakukan dengan satu tujuan, yaitu mewujudkan ketenangan bathin dalam pergaulan dengan sesama manusia. Melalui semangkuk teh, rasa damai dapat berkembang dengan sesungguhnya karena dianggap sebagai sebuah perasaan berbagi dengan sesama yang dapat dijadikan dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Prinsip Chado ini merupakan ritual yang sederhana serta ekonomis dan diharapkan semua orang yang mencobanya akan menemukan "kedamaian di dalam semangkuk teh".Bagaimana dengan rasa tehnya? Teh Jepang yang fresh dikocok hingga berbusa oleh Teishu (si pembuat teh) yang didampingi oleh Hanto (asisten pembuat teh) dengan keahlian khusus kemudian disajikan ke para anggota. Sebelum menyeduh teh ini, anggota memakan kue mungil terbuat dari kacang-kacangan dengan cita rasa manis yang sangat menggelitik lidah. Kue-kue mungil nan manis inipun bervariasi jenis dan namanya. Sebut saja tsuru, berwarna putih yang bermakna "bangau". Kue kame, berwarna merah bermakna "kura-kura" dan kue manryo, berwarna hijau dan bermakna "emas". Kue-kue ini disesuaikan dengan musim yang sedang terjadi di negeri matahari terbit tersebut. Fungsi kue mungil nan manis ini adalah untuk menetralisir teh Jepang yang akan diminum, sehingga tidak begitu terasa pahit ketika menyeduhnya. Kesegaran serta kehangatan teh Jepang ini benar-benar menyegarkan tenggorokan. Tak heran bila dengan menyeduh teh Jepang ini, kedamaian senantiasa menyelimuti hati sanubari. Jadi bagi Anda yang berminat mempelajari seni Chado ini, bergabunglah dengan Urasenke Tankokai Indonesia ini dengan menghubungi Ibu Warni di (021)42804436.
(ely/)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN