Ketupat Cokelat Yang Sarat Pesan Kebangsaan

Erliana Riady - detikFood Rabu, 12 Jun 2019 17:20 WIB
Foto: Erliana Riady/detikcom Foto: Erliana Riady/detikcom
Blitar - Sebanyak 4000 porsi ketupat coklat ludes dalam hitungan menit. Ribuan orang menyantap hidangan istimewa ini di Kampung Coklat, Kademangan, Blitar.

Kirab ketupat cokelat selain mengedukasi masyarakat akan variasi menu olahan berbahan cokelat, juga sarat akan pesan kebangsaan.

Sebelumnya, gunungan tumpeng wadon (wanita) berisi ratusan ketupat cokelat diletakkan di depan pintu masuk destinasi wisata edukasi kakao ini. Gunungan ketupat cokelat wadon juga dihiasi beragam sayur dan buah hasil bumi. Sebagai simbol kesuburan tanah nusantara.
Ketupat Cokelat Yang Sarat Pesan KebangsaanFoto: Erliana Riady/detikcom

Sementara, gunungan ketupat lanang (lelaki) diarak menggunakan mobil pikap mengelilingi Desa Plosoarang, lokasi Kampung Coklat berada. Begitu sampai di depan pintu masuk Kampung Coklat, tampak dua wanita berkebaya merah melemparkan gulungan daun sirih, yang dibalas lemparan daun sirih juga oleh dua pria bersarung yang membawa gunungan ketupat lanang.

Baca juga : Murah Meriah, Sate Tahu dan Telur Khas Blitar Rp 7.000 Saja

"Kehidupan itu tidak bisa lepas dari lanang lan wadon. Pria dan wanita agar bisa mbrenah (berkembang biak). Seperti juga usaha ini, semoga semakin barokah dan bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya manusia lain," kata owner Kampung Coklat, Cholid Mustofa pada wartawan, Rabu (12/6/2019).
Ketupat Cokelat Yang Sarat Pesan KebangsaanFoto: Erliana Riady/detikcom

Akulturasi budaya Jawa dengan ajaran Islam, kental terasa dalam laku ritual kirab ketupat cokelat ini. Aroma dupa dan wewangian bunga, berbaur dalam atmosfer suara rebana yang mengiringi para santri membaca salawat nabi dalam nyanyian riang.

Para pembawa gunungan ketupat cokelat, semua berbaju koko dan berkopiah. Tampak pria dengan baju beskap hitam dan blangkon hitam memberi wejangan panjang lebar berbahasa Jawa. Lalu dibacakan doa Jalasutra dalam bahasa Jawa, yang diamini semua orang yang hadir di paseban. Kemudian ditutup pembacaan doa dalam bahasa Arab oleh ulama yang bergamis dan kopiah putih, yang juga diamini semua yang hadir.

"Jangan pernah melepaskan jati diri kita. Kita ini orang Jawa, lahir dan hidup diatas tanah Jawa. Jadi budaya Jawa harus kita lestarikan. Dan jangan pernah ragu jika dikaitkan dengan kaidah Islam. Karena semua tertuju pada kebaikan sesama dan keyakinan akan Kuasa Tuhan Yang Maha Esa," jelas Cholid yang juga tokoh Nahdlatul Ulama di wilayah Blitar selatan ini.
Ketupat Cokelat Yang Sarat Pesan KebangsaanFoto: Erliana Riady/detikcom

Usai doa, Cholid mengambil satu ketupat cokelat lalu dibelah secara simbolis dan dibagikan pada semua yang hadir. Acara yang digelar tiap tahun, kali ini menyediakan 4000 porsi ketupat cokelat lengkap sayur tahu tempe dan opor ayam.

Baca juga : Uenak Poll! Tahu Tek Plus Telur Khas Blitar Racikan Cak Runi
Ketupat Cokelat Yang Sarat Pesan KebangsaanFoto: Erliana Riady/detikcom

Cholid mengaku menghabiskan sebanyak 25 kg bubuk cokelat dan beras dua kuintal untuk menyediakan menu andalannya itu. Walaupun ketupat ini dicampur bubuk coklat, namun rasanya tetap gurih dan nikmat. Seperti pengakuan pengunjung asal Trenggalek yang secara kebetulan berkunjung, saat kirab ketupat coklat dilaksanakan.

"Baru tahu ini. Walaupun dari cokelat, rasanya gurih kok. Mantap semuanya rasanya. Tahun depan, saya pasti kesini lagi kalau tahu ada acara seru seperti sekarang ini," pungkasnya. (dvs/odi)