Demi Kuliner Indonesia, Ilmuwan UGM Tetap Meneliti Meski dalam Kebutaan

Mustiana Lestari - detikFood Senin, 29 Apr 2019 19:13 WIB
Foto: Mustiana Lestari Foto: Mustiana Lestari
Jakarta - Ada rasa haru yang tersisa dari Perhelatan Ubud Food Festival present by ABC. Semua orang yang didominasi orang asing berdecak kagum sembari diiringi tepuk tangan gemuruh saat sesi Empowering Indonesian Produce. Segala keriuhan itu untuk satu orang yang berada di depan mereka, dia adalah Peneliti Senior dari UGM, Prof Dr Ir Murdijati Gardjito.

Selesai sesi diskusi, semua orang berebut mendekati dan menyalaminya. Namun, Bu Mur, begitu sapaannya, tetap ramah dan sabar melayani berbagai pertanyaan dan respons terhadap diskusi tersebut.

Padahal tubuh tak lagi kuat dan muda. Dia juga harus dibantu sang asisten untuk menjawab segala pertanyaan yang disampaikan, begitu pun saat tangannya hendak menyalami orang lain.


Keterbatasan itu terjadi karena dua buah bola matanya tak lagi melihat sempurna karena glukoma yang sudah diderita sejak 4 tahun belakangan. Walau dilanda sejumlah keterbatasan, penulis 60 buku kuliner ini tak pernah berhenti menulis semua tentang kuliner Indonesia. Itu semua semata karena cintanya pada kuliner Indonesia dan bermula dari Keraton Yogyakarta.

"Saya berasal dari keluarga tradisional keturunan raja. Saya datang ke acara seremonial saya lihat semuanya yang disajikan makanan tradisional jadi saya belajar bagaimana peranan makanan tradisional selalu eksis namun tidak pernah diperhatikan dan tidak ada fasilitas padahal secara ekonomi sangat kuat. Itu alasan saya belajar masakan Indonesia," kata Bu Mur panjang lebar di sesi Food for Throught, Ubud, Bali, Minggu (29/4/2019).

Dari kecintaan itu, dia pun terpilih dan dipercaya sebagai salah pemimpin di Center of Traditional Food Studies yang belum banyak peminatnya. Kerundungan juga sempat menimpanya saat penelitian yang dia garap bertahun-tahun terus ditolak penerbit.

Namun Bu Mur tak pernah menyerah hingga akhirnya salah satu penerbit meliriknya. Penelitiannya pun tak berhenti di situ, setelah menemukan jumlah kuliner Indonesia hingga 3259, Bu Mur terus ingin mengeksplorasinya lagi. Kali ini tentang kuliner aceh yang tak hanya menyimpan rasa yang nikmat tapi sejarah yang kuat.

"Saya harap bisa menajamkan penelitian saya karena saya pasti akan kehilangan penglihatan mata saya. Saya harus berkompetisi waktu saya harap Tuhan beri saya waktu untuk membahas penelitian Aceh ini sehingga saya bisa menulis kuliner Aceh yang sangat menakjubkan," ucap dengan suara bergetar.


Kini Bu Mur hanya dibantu para relawan untuk menuntaskan penelitian dan pemikirannya. Dia berharap ada pendana yang bersedia menyalurkan donasinya demi penelitian ini.

"Saya gak bisa sendiri saya memperkerjakan relawan untuk mengumpulkan data saya dan saya membayarnya dari uang pensiun saya," tambahnya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Selain Aceh, Bu Mur juga tengah menuntaskan penelitian tentang jamu yang dianggap mewakili keindahan dan rasa Indonesia. Dia pun meminta agar pemerintah lebih peka dan perhatian terhadap jamu di Indonesia.

Atas dedikasi dan sumbangsihnya, Bu Mur diganjar Lifetime Achievement Award oleh penyelenggara Ubud Food Festival. Dia berharap generasi muda terus mencintai kuliner Indonesia seluruhnya seutuhnya. (mul/ega)