Puedess Poll! Rujak Belut yang Gurih di Pinggir Hutan Lamongan

Eko Sudjarwo - detikFood Senin, 12 Nov 2018 09:10 WIB
Foto: dok. detikFood Foto: dok. detikFood
Lamongan - Belut yang digoreng garing tentulah gurih renyah. Di Lamongan, belut goreng ini dipadu dengan terong dan sambal yang pedas nikmat. Huaah!

Rujak belut, itulah nama belut bersambal yang diracik oleh Ibu Sulastri di Desa Bronjong, Kecamatan Bluluk. Warung yang berada di sekitar hutan desa setempat inipun selalu ramai dengan pencinta rujak belut.

"Alhamdulillah ramai mas, apalagi kalau akhir pekan," kata Sulastri yang mengaku sudah 20 tahun membuka warung rujak belut ini.

Puedess Poll! Rujak Belut yang Gurih di Pinggir Hutan LamonganFoto: dok. detikFood

Apa yang membedakan rujak belut masakan Sulastri dengan sambal belut lainnya? Sulastri mengaku, sambal belutnya lain karena belut goreng yang ia sajikan langsung ia ulek dalam cobek bersamaan ketika mengulek bumbu.

"Yang membedakan juga, saya menambahkan irisan terong bulat hijau yang juga saya ulek bersama dengan belut dan bumbunya," ujar Sulastri.

Terong yang dipakai, menurut Sulastri, bukan terong yang lonjong tetapi terong hijau bulat kecil tak lebih besar dari kepalan tangan ini yang bentuknya seperti tomat. Sulastri mendapatkan terong ini di sekitar desanya dengan rasa yang manis dan renyah seperti mentimun. Untuk belut, ia mendapat kiriman dari Tuban. "Sehari saya bisa habis 8 sampai 10 kilo gram belut," ujarnya.

Proses memasak rujak belut ini pun tak membutuhkan waktu lama. Pertama, belut yang sudah dibersihkan dipotong kecil-kecil untuk kemudian diaduk bersama bumbu. Setelah itu, belut tersebut kemudian digoreng hingga garing dan renyah. "Bumbu untuk sebelum digoreng adalah kunyit, bawang putih dan kemiri," papar Sulastri.

Puedess Poll! Rujak Belut yang Gurih di Pinggir Hutan LamonganFoto: dok. detikFood

Selanjutnya disiapkan bumbu sebagai bahan sambalnya. Seperti cabe, tomat dan garam yang diulek di dalam cobek bersama dengan belut gorengnya. "Setelah sambal jadi, terong mentah yang sudah dibersihkan diiris kecil-kecil dan dimasukkan dalam cobek bersama dengan belut goreng yang masih panas tadi, kemudian diulek bersama sebelum disajikan," ungkap Sulastri. Untuk satu porsi rujak belut ia mematok harga Rp 20.000.

Setiap harinya, Sulastri menghabiskan setidaknya 8 hingga 10 kilogram belut dengan pelanggan yang tidak hanya masyarakat sekitar tapi juga luar kota. Lokasi warung Sulastri yang berjarak lebih kurang 36 km dari kota Lamongan ini ternyata juga menjadi destinasi pejabat untuk sekadar melepas penat dengan makan rujak.

"Banyak juga dari luar kota seperti Krian Sidoarjo dan juga Jombang dan Nganjuk," jelasnya.

Puedess Poll! Rujak Belut yang Gurih di Pinggir Hutan LamonganFoto: dok. detikFood

Salah seorang pelanggan dari Madura, Nurul Huda mengaku, kalau ke Lamongan ia selalu menyempatkan diri untuk makan di warung Sulastri ini. Huda mengaku, bumbu rujak belut Sulastri lain dari yang lain dan rasanya empuk dan gurih. "Saya tahunya dari teman, rasanya gurih dam empuk, lain dari yang lain," kata Huda.

Sementara, pelanggan lainnya, Adi Suwito menyebutkan, kalau sedang rehat dan tidak ada acara selalu ingin ke warung rujak belut ini. "Rasanya lain, bagi yang doyan pedas, rujak belut ini patut untuk dicoba," ujar Adi.




Tonton juga 'Ini Bayi Belut, Makanan Termahal di Spanyol!':

[Gambas:Video 20detik]



Puedess Poll! Rujak Belut yang Gurih di Pinggir Hutan Lamongan
(adr/odi)