Gutel, Jajanan yang Dibawa Orang Gayo Saat Berperang dan Berburu

Agus Setyadi - detikFood Senin, 13 Agu 2018 14:16 WIB
Foto: Agus Setyadi/detikcom Foto: Agus Setyadi/detikcom
Jakarta - Teksturnya sedikit keras, rasanya manis legit dengan aroma wangi pandan. kalau dulu dibawa sebagai bekal perang, kini jadi teman ngopi.

Masyarakat Gayo Lues, Aceh punya makanan khas yang dibawa saat berburu atau berperang. Namanya, Gutel. Sekilas, kudapan yang terbuat dari campuran tepung beras ini mirip dengan godok-godok.

Jajanan tradisional yang kini mulai langka tersebut dibuat dari tepung beras, kelapa parut, gula dan air. Seluruh bahan ini dicampur hingga rata dan kalis. Kemudian dibentuk bulat lonjong lonjong sebesar telur ayam.

Gutel, Jajanan yang Dibawa Orang Gayo Saat Berperang dan BerburuFoto: Istimewa


Setelah digumpal atau diuleni, gutel selanjutnya dibalut dengan daun pandan. Tiap dua buah gutel dijadikan satu. Kemudian gutel dikukus hingga matang dan harum. Selanjutnya didinginkan.

Menurut seorang penjaga anjungan Kabupaten Gayo Lues, Marni, gutel termasuk salah satu jajanan khas daerahnya. Mudah disimpan dan tahan hingga beberapa hari. Biasanya, masyarakat setempat mempersiapkan penganan ini untuk perjalanan jauh.

Ketika pada masa lalu kendaraan belum ada, masyarakat di sana membawa Gutel sebagai bekal saat melintasi hutan. Selain itu, ketika perang melawan penjajah Belanda dan Jepang berkecamuk, salah satu makanan andalan pejuang di Tanah Gayo adalah Gutel.

Gutel, Jajanan yang Dibawa Orang Gayo Saat Berperang dan BerburuFoto: Istimewa
"Zaman perang dulu makanan ini sudah ada. Ini warisan nenek moyang kami dan sudah ada sejak zaman dulu," kata Marni, Senin (13/8/2018).

Gutel yang memiliki tekstur agak keras ini dapat digunakan sebagai pengganti nasi. Meski dijadikan kudapan untuk berburu di alam liar, tapi gutel juga cocok disantap bersama segelas kopi.

Menurut Marni, proses membuat Gutel tersebut yaitu bahan yang sudah disiapkan selanjutnya dikemul (diuleni dengan kekuatan genggaman jari) sehingga bentuknya menjadi padat. Untuk tingkat kelezatannya terletak pada tingkat kecintaan si-pembuatnya saat meracik.

Untuk saat ini, Gutel sudah mulai jarang ditemui di Gayo Lues. Penganan ini hanya disediakan di hari-hari tertentu saja atau saat ada perayaan kebudayaan. "Sekarang jarang dijual. Kalau lagi ada acara, baru banyak yang buat," ungkap Marni.

Selama Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7, anjungan Gayo Lues menyediakan Gutel sebagai salah satu kuliner andalan mereka. Acara empat tahunan ini akan berlangsung hingga 15 Agustus mendatang.

(dwa/odi)