Begini Kelezatnya Bubur Samin Masjid Darussalam Solo yang Bikin Kangen

Bayu Ardi Isnanto - detikFood Jumat, 18 Mei 2018 19:08 WIB
Foto: Dok. detikFood
Solo - Pernah coba bubur samin? Racikan bubur buatan pengurus Masjid Darussalam Solo ini sangat enak. Hanya ada di bulan Ramadan, banyak orang yang ingin mencicipnya.

Setiap Ramadan tiba, Masjid Darussalam di Kelurahan Jayengan, Serengan, Solo, selalu jadi destinasi warga. Selepas asar, masyarakat Solo dan sekitarnya selalu antre untuk mendapatkan bubur samin khas Banjar ini.

Pantas saja bubur yang berasal dari Pulau Borneo itu selalu dirindukan kehadirannya. Selain rasanya yang lezat, bubur ini juga sulit ditemui di Solo, selain saat bulan Ramadan.

Begini Kelezatnya Bubur Samin Masjid Darussalam Solo yang Bikin KangenFoto: Dok. detikFood

Butuh proses yang cukup lama untuk menghasilkan bubur samin dengan porsi besar. Mulai pukul 10.00 WIB, pengurus masjid sudah menyiapkan racikan bahan-bahan bubur samin.

Baca juga: Bubur Samin, Menu Buka Puasa Khas Etnis Banjar di Solo

"Bahannya ada beras, sayuran, bumbu rempah-rempah, irisan daging sapi, dan yang paling penting pakai minyak samin yang aromanya khas," kata Ketua Takmir Masjid Darussalam, HM Rosyidi kepada detikFood Jumat (18/5/2018).

Bahan-bahan itu dicampur menjadi satu di dalam bejana besar. Butuh belasan orang untuk memasak bubur samin selama sekitar lima jam.

Begini Kelezatnya Bubur Samin Masjid Darussalam Solo yang Bikin KangenFoto: Dok. detikFood

"Bubur ini harus diaduk terus, kalau berhenti nanti kering. Yang mengaduk terus bergantian," ujar dia.

Seusai salat asar, bubur samin siap dibagikan kepada masyarakat. Rantang demi rantang pun diisi bubur oleh takmir masjid.

Bagi yang tidak kebagian bubur samin di sore hari, warga bisa berbuka dengan santapan bubur samin di Masjid Darussalam. Selain bubur, takmir juga menyiapkan kopi susu sebagai pendamping.

"Secara spontan kemungkinan ada warga yang menyumbang buah-buahan," tuturnya.

Begini Kelezatnya Bubur Samin Masjid Darussalam Solo yang Bikin KangenFoto: Dok. detikFood

Rosyidi mengisahkan tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1980. Berawal hanya dikonsumsi para perantau dari Banjar, bubur samin kemudian dibagikan kepada masyarakat.

"Dulu hanya 15 kg beras per hari. Tahun ini 50 kg beras disediakan untuk sekitar 1.100 porsi. 200 porsi di antaranya untuk berbuka di sini," ungkap dia.

Seorang warga sekitar, Yuliati, mengaku selalu menantikan bubur samin setiap Ramadan. Rasanya yang gurih dengan aroma sedap membuatnya rela antre dengan ratusan warga lain.

"Di bulan Ramadan, hampir setiap hari ke sini. Rasanya enggak bikin bosan," ujarnya. (lus/lus)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com