Serunya Napak Tilas Kuliner Arab di Kawasan Cikini

Lusiana Mustinda - detikFood Senin, 20 Jun 2016 18:25 WIB
Foto: detikFood Foto: detikFood
Jakarta - Siapa sangka, ternyata Cikini punya beberapa restoran yang dapat pengaruh Arab. Sehingga banyak wisatawan Arab yang senang berkunjung ke daerah ini.

Selama ini warga Jakarta sudah mengenal Kampung Arab di kawasan Pekojan ataupun kawasan Condet, dimana banyak bermukim orang-orang keturunan Arab. Akan tetapi selain kedua tempat tersebut, ternyata di Jalan Raden Saleh dan Cikini Raya, Jakarta Pusat juga terkenal dengan tempat berkumpulnya orang-orang keturunan dan juga wisatawan Arab.

Di bulan Ramadan ini, Jakarta Food Adventure yang merupakan trip organizer yang berfokus pada Culinary Tourism kembali adakan Charity Walking Tour dengan mengangkat tema "Explore Little Arab and The Taste of Middle East".

Dalam kegiatan ini, peserta tur diajak untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah mulai dari berziarah ke makan Habib Cikini, berkunjung ke Rumah Raden Saleh, toko dan juga eksportir kayu gaharu hingga mencicip hidangan khas Arab di beberapa restoran di Cikini.

Tur diawali dengan mengunjungi makam Al Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi. Beliau merupakan ayah dari Habib Ali Al Habsyi yang dikenal dengan nama Habib Kwitang.

Berada tak jauh dari makam Habib Cikini, rombongan juga diajak untuk berkunjung ke Masjid legendaris Al Makmur Cikini dan juga rumah megah menyerupai kastil yang dulunya milik Raden Saleh Syarif Bustaman. Ia adalah seorang pribumi keturunan Jawa yang terkenal tidak hanya di Tanah Air tapi juga seluruh belahan Eropa.

Menyusuri kawasan ini, Anda akan menemukan street food bernama Raya Food yang sajikan makanan khas Arab murah seperti Samosa hingga Nasi Mandy.

Saat tur, kami juga diajak untuk mampir ke tiga restoran Timur Tengah. Destinasi pertama yang kita kunjungi adalah Amira Resto yang berada di jalan Raden Saleh. Berbentuk semi rumah, kami diajak untuk mencicip Teh Adani khas Arab.

"Teh Adani ini terbuat dari susu, kapulaga, jahe dan juga kayu manis. Teh ini biasanya disuguhkan untuk menyambut tamu," tutur pemilik

Tak jauh dari Restoran Amira, kami mengunjungi Al Basha Restaurant. Al Basha berasal dari kata 'Pasha' yang berarti Raden. Dengan nuansa Arab yang kental kami disambut oleh para karyawan yang menggunakan pakaian a la Arab.

Sebagai menu pembuka, kami disuguhkan dengan minuman asam yang segar. Kemudian disusul dengan mencicip roti syami yang enak dicocol dengan pelengkap berupa mix vegetable with tomato paste yang gurih berempah.

Al Basha menjadi destinasi untuk menikmati menu utama khas Timur Tengah. Dalam satu piring besar disajikan nasi mandy bertopping ayam panggang dan juga nasi kebuli dengan topping daging kambing yang empuk berempah.

Nasinya menggunakan beras basmati dari India sehingga memiliki bentuk yang ramping dan juga panjang. Restoran yang berkantor pusat di Guangzhou, China ini mengimport langsung beras dan juga pasta tomatnya.

"Tidak hanya spesifik dari suatu daerah, Al Basha juga sajikan menu Arab secara keseluruhan, termasuk Lebanon. Selain itu, kami juga sediakan menu Oriental dan juga Thailand," tutur Hesti Abu, selaku Manager Restoran.

Puas menyantap makanan, kami juga disuguhkan dengan black tea khas Arab. "Orang Arab lebih suka makan kurma dan minum kopi saat berbuka. Sedangkan teh disajikan setelah menyantap menu utama," jelas Hesti.

Perjalanan berakhir di Omarez Cafe and Resto yang bernuansa modern. Chef Semi membuat secara khusus aneka dessert enak seperti Um Ali, Haresa, Baklava hingga Kunafa.

"Um Ali terbuat dari susu yang dicampur dengan potongan croissant dan bubuk kayu manis, gula dan heavy cream. Kemudian dipanggang dalam oven," jelas Chef Semi.

Selain itu, Chef Semi juga sajikan Baklava yang merupakan dessert asal Turki yang terbuat dari campurkan kacang-kacangan dan juga puff pastry yang disiram dengan air gula.

Ada juga Haresa yang terbuat dari tepung semolina dan juga gula, susu bubuk dan juga air gula. "Haresa menjadi dessert khas daerah Suriah, Palestina hingga Lebanon," tambah chef bertubuh tinggi ini.

Sambil menikmati alunan musik gambus akustik, peserta tur juga diperkenankan untuk mencicip kopi khas Arab yang unik. Menurut Chef Semi, kopi Arab ini memiliki warna yang agak keputihan. Dengan campuran cengkeh dan kapulaga sehingga memiliki rasa yang pahit.

Ia menyarankan agar menggigit kurma sambil menyeruput kopi agar rasanya enak. Dessert yang memiliki rasa manis juga cocok disantap dengan kopi khas Arab ini.

Sambil ngemil dessert, para peserta juga bisa sambil menikmati "Henna Painting" secara gratis.

Setelah puas berjalan-jalan, salah satu peserta mengaku senang mengikuti acara ini. "Kegiatannya unik. Walaupun agak capek jalan kaki, tapi seru bisa mencicip aneka makanan khas Timur Tengah dan tahu banyak sejarah mengenai tempat hingga makanan Arab di Cikini," ungkap Prasetyo, salah satu karyawan swasta kepada detikFood.

Charity Walking Tour Litte Arab ini adalah event ke-5 yang diadakan oleh Jakarta Food Adventure untuk misi sosial dan diadakan rutin sebulan sekali.

Beberapa Charity Walking Tour yang diadakan sebelumnya adalah Explore China Town, Explore Little India- Passer Baroe, Explore Portuguese Village- Kampung Tugu, dan Explore Old Town Batavia di Kota Tua.

Agenda Tur berikutnya, Jakarta Food Adventure akan mengadakan Jelajah budaya dan kuliner di pesisir Jakarta dan juga luar Jakarta, sebagai berikut : "Jelajah Cilincing" (Juli), "Jelajah Bandung" (Agustus), "Jelajah Depok " (September), dan "Jelajah Bekasi" (Oktober).

Informasi seputar kegiatan selanjutnya bisa diakses melalui www.jakartafoodtour.org atau Twitter dan Instagram @jakartafoodtour. (lus/odi)