Mencicip Daging Spe dan Pindang Serani, Kuliner Asli Keturunan Portugis di Jakarta

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood Senin, 09 Mei 2016 16:17 WIB
Foto: detikFood Foto: detikFood
Jakarta - Seperti halnya kawasan Portugues Settlement di Malaka, Jakarta Utara punya kawasan berpenghuni orang-orang keturunan Portugis. Mereka melestarikan budaya, termasuk kuliner khas dari ratusan tahun lalu.

Bersama Jakarta Food Adventure, detikFood (08/05) dan rombongan tur berkesempatan mengunjungi Kampung Tugu di kawasan Semper, Jakarta Utara. Wilayah ini tak bisa dilepaskan dari sejarah kota Jakarta di masa lampau. Kala itu Belanda berhasil menaklukkan Malaka dan menawan orang-orang Portugis lalu membawanya ke Tugu.

Tur diawali dengan mengunjungi Gereja Tugu yang sudah ada sejak tahun 1735. Gereja ini kabarnya sempat dibakar tahun 1744 oleh orang-orang Tionghoa yang memberontak. Pada tahun 1744 dibangun kembali gereja baru atas biaya seorang pejabat VOC/Belanda bernama Justinus Vinck. Bentuk gereja dikabarkan masih sama seperti dulu, begitu juga dengan lonceng yang ada di dekatnya.

Kampung Portugis atau Kampung Tugu sendiri berlokasi tak jauh dari gereja. Ada jalan tembus yang menghubungkan Gereja Tugu dengan kampung ini. Warganya mayoritas beragama Kristen sehingga nampak ciri kekristenan pada sejumlah rumah di sini. Kampung ini tidak terlalu luas karena berbatasan langsung dengan tembok batas gudang peti kemas Koja dan sebuah jalan tol menuju pelabuhan Tanjung Priok yang padat.


Masih di wilayah Kampung Tugu, rombongan diajak mampir ke sebuah sanggar tempat diadakannya latihan dan pertunjukkan rutin kesenian Keroncong. Di sini grup musik bernama Moresko Toegoe menghibur peserta tur dengan lantunan lagu keroncong berbahasa campuran Portugis. Sabagai suguhan, Eugeneana Quiko yang merupakan warga asli Kampung Tugu membuatkan ketan unti, pisang udang, dan apem kinca.

"Tiga panganan ini adalah makanan asli keturunan orang Portugis yang bermukim di Jakarta. Sebenarnya ada juga putu mayang, tapi putu mayang kan sekarang sudah banyak dimana-mana. Nah kalau yang tiga ini rasanya hanya bisa ditemui di sini," ujar Ibu Eugeneana.


Ketan unti jadi yang paling spesial karena menu ini sebenarnya hanya dibuat saat ada yang meninggal. Ketan diberi taburan unti yaitu parutan kelapa muda dan gula merah. Rasanya manis dengan sedikit sentuhan gurih.

Tampilan pisang udang mirip dengan kue nagasari. Adonan tepung beras yang lembut diisi parutan pepaya muda dan udang. Udangnya tidak utuh tetapi diulek hingga halus bersama lada lalu ditumis hingga kemerahan. "Tidak semua warga Kampung Tugu bisa membuatnya karena teknik melipat daun pisangnya sulit. Harus terampil membungkusnya hingga berbentuk segitiga seperti bungkus tempe," jelas Ibu Eugeneana yang sering membuat pisang udang untuk dijual di bazar-bazar.


Meski apem mudah ditemui di Jakarta, apem kinca spesial karena pemakaian saus gula merah. Apem yang empuk gurih terasa manis legit begitu disirami saus ini. Ibu Eugeneana bercerita apem ini begitu disukai. "Kalau saya buat untuk bazar, sudah ada yang pesan banyak sekali meski bazar belum dibuka."

Rombongan lalu diajak mengunjungi kediaman Ibu Erni yang menjadi Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT). Tiap sebulan sekali, IKBT mengadakan pertemuan rutin di wilayah Kampung Tugu untuk kebaktian sekaligus melepas rindu. Pertemuan komunitas Kristen tertua di Indonesia bagian barat ini sekaligus bertujuan menjaga silaturahmi diantara 150 kepala keluarga yang tersisa.

Tur berlanjut dengan menikmati makan siang di rumah salah satu tokoh masyarakat Tugu, Michiel van Mardijker. Sudah ada daging spe, pindang serani, dan daging spe yang disuguhkan.


"Daging spe sebenarnya mirip semur. Dulu daging yang dipakai adalah babi hutan, tetapi kini banyak yang menggunakan daging sapi. Proses pembuatannya memang mirip semur tetapi ditambahkan asam Jawa. Jadi rasanya manis-manis asam," ujar Lina, istri Bapak Michiel yang memasak hidangan ini.

Pindang serani juga masakan khas Kampung Tugu. Nama 'serani' diadaptasi dari kata 'Nasrani' mengingat pada masa lalu masakan ini adalah masakan khas kaum Nasrani keturunan Portugis di sini. Kini pindang serani telah dianggap sebagai masakan Betawi. Berupa ikan bandeng yang dimasak bersama kecap dan berbagai bumbu dapur. "Memasaknya mudah dan sebentar, namun kalau mau makin enak pindang sebaiknya didiamkan semalaman. Bumbunya akan makin meresap," jelas Ibu Lina.


Gado-gado siram berbeda dari gado-gado biasa. Pemakaian bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, kencur, dan kemiri dalam bumbu kacang jadi ciri khasnya. Gado-gado ini juga ditambahkan santan kental dan cuka sehingga rasanya gurih asam. Untuk isiannya, gado-gado siram terdiri dari tahu, kol, kentang, bayam, dan mentimun.

Menikmati Portuguese Egg Tart jadi penutup santapan kali ini. Makanan ini sebenarnya bukan khas Kampung Tugu, namun merupakan jajanan khas dari Portugis. Jajanan ini juga mudah ditemui di Hong Kong dan Macau yang pernah jadi jajahan Portugis. "Bedanya kalau di Hong Kong, egg tart berbentuk seperti pie susu. Kalau di Portugis, ada ciri khas panggangan warna cokelat di permukaan isian egg tart" ujar Gita Estanislao yang mendemokan cara pembuatan Portuguese Egg Tart.


Camilan ini terasa manis gurih dan mengenyangkan karena dibuat dari puff pastry. Ada cita rasa kayu manis yang khas sehingga bisa puaskan selera.

Rangkaian tur ditutup dengan menyumbangkan sejumlah barang untuk Panti Sosial terdekat. Semua peserta nampak puas dan senang usai mengikuti tur. "Lewat acara ini jadi tahu kalau ternyata di Jakarta ada Kampung Portugis. Senang juga bisa cicip beberapa kuliner khasnya," ujar Ami, salah satu peserta.

Ini adalah acara ketiga kalinya yang dibuat oleh Jakarta Food Adventure setelah sebelumnya mengadakan tur serupa dengan tema Chinese Food Heritage di kawasan Glodok dan India Food Heritage di Pasar Baru. Informasi seputar kegiatan selanjutnya bisa diakses melalui www.jakartafoodtour.org atau Twitter dan Instagram @jakartafoodtour.



(adr/odi)