Laporan dari Manila

Bertemu Ratu Sisig dan Mencicipi 'Spicy Sweet Tuyo'

Maya Safira - detikFood Minggu, 21 Feb 2016 19:38 WIB
Foto: detikfood Foto: detikfood
Jakarta - Tur makan nonstop 15 jam di Manila dan Pampanga berakhir sukses. Peserta mengunjungi 10 tempat makan terbaik dan mencicipi kelezatannya.

15hr Food Frenzy Safari jadi bagian perkenalan World Street Food Congress (WSFC) 2016 yang akan berlangsung bulan April di Filipina. Sejumlah jurnalis dan blogger dari 6 negara diajak mencoba langsung makanan terbaik Filipina. William W. Wongso, pakar kuliner Indonesia yang terlibat dalam WSFC, juga ikut serta dalam tur ini.

Tur diawali pukul 7.00 waktu setempat dan dipandu langsung oleh K.F. Seetoh, pendiri Makansutra Singapura, bersama Anton Diaz dari Our Awesome Planet. Anton dikenal sebagai blogger makanan dan wisata nomer satu Filipina . Membuka tur kuliner yang pertama digelar di Filipina ini Anton juga mengungkapkan kegembiraannya.

"Saya sangat senang karena ini diadakan untuk pertama kalinya di Filipina. Dalam kegiatan ini peserta bisa mencoba kuliner unggulan dan bertemu chef papan atas,” ujar Anton yang menyusun distinasi kuliner unggulan.

Sejak awal acara, peserta tidak diberi tahu tempat kuliner yang dituju. Hal ini menjadi bagian kejutan selama tur. Menebak dan menduga kelezatan apa yang menanti. Di tiap destinasi peserta diberi waktu sekitar 15-20 menit untuk mencicipi dan memotret makanan.

Tur dimulai dengan sarapan di Recovery Food, Bonifacio Global City, Taguig. Awal
nya restoran ini masih berupa tempat kecil di dekat bar. Sesuai namanya, saat itu Recovery Food jadi tempat makan untuk memulihkan mabuk.

Menu yang ditawarkan restoran 24 jam ini umumnya berupa sajian nasi dengan topping comfort food khas Filipina. Misalnya adobo, paksig, dan lain-lain.

Salah satu keunikannya terletak pada nama menu. Ada Tapa The Morning (olahan leher daging), Amadobo (adobo babi), Hey Judes Paksig (bandeng masak cuka) ataupun Spicy Sweet Tuyo (ikan kering pedas manis).

Perjalanan dilanjutkan ke provinsi Pampanga yang menghabiskan waktu sekitar 2 jam dari Metro Manila. Antonio mengatakan wilayah ini jadi pusat kuliner Filipina. Contohnya saja sisig, hidangan dari kepala babi, yang lahir dari Angeles City di Pampanga.



Peserta pun mampir ke rumah makan Aling Lucings yang pertama kali menciptakan menu ini pada tahun 1974. Jika kini sisig dibuat dengan variasi modern seperti mayonnaise dan telur, Aling Lucings masih mempertahankan resep asli buatan Lucia Cunanan, sang penemu yang sudah wafat di usia 80 tahun.
 
Lucia yang dijuluki Sisig Queen membuat sisig dari potongan kecil bagian kepala babi dan hati ayam yang diberi bumbu cuka, kalamansi, dan bawang bombay. Kemudian sisig disajikan dalam hot plate agar tetap hangat hingga suapan terakhir.



Seusai konferensi pers WSFC 2016, peserta diajak berkeliling Binondo, daerah Chinatown di Manila. Aneka hidangan khas China pun dinikmati di sini. Omelet tiram yang gurih hingga dumpling gaya Kanton dicicipi oleh peserta.

Akhir dari perjalanan peserta dibawa kembali ke Bonifacio Global City. Setiap hari Jum’at dan Sabtu malam ada pasar makanan malam terbesar di Filipina bernama Mercato Centrale. Terdapat beragam penjaja makanan, termasuk bakmi Indonesia.


 
Di Mercato Centrale juga ada Pepita’s Kitchen yang sempat memicu antrean panjang di WSF Jamboree 2015.  Peserta diberikan sajian andalan Lechon de Leche with Truffle Rice Stuffing. Berupa babi panggang utuh yang diisi paella dan minyak jamur truffle.



Sambil menikmati makanan, acara ditutup dengan pembagian sertifikat pada peserta karena berhasil menyelesaikan tur kuliner selama 15 jam nonstop. Peserta pun diharapkan semakin mengenal sajian Filipina setelah kegiatan ini.

Sebelumnya, Makansutera juga sempat mengadakan tur serupa di Singapura. Namun durasi kegiatan lebih panjang yaitu 24 jam untuk 31 jenis makanan.

 



 

(msa/odi)
Load Komentar ...