Selain dikonsumsi manusia jagung di Indonesia juga jadi salah satu pakan unggas. Untuk mencukupi kebutuhan Indonesia harus mengimpor jagung dari negara lain.
Bioteknologi kini banyak dimanfaatkan untuk pengembangan produk pangan. Tidak hanya didasari pada biologi semata, tetapi juga pada ilmu-ilmu terapan dan murni lain. Seperti biokimia, komputer, biologi molekular, mikrobiologi, genetika, kimia, matematika dan lain sebagainya.
Pemanfaatan bioteknologi pangan diungkap dalam seminar "Membangun Generasi Sehat dan Berprestasi dengan Asupan Gizi Sehat dan Seimbang" pada Kamis (18/02) di kampus Universitas Indonesia. Milton Stokes, PhD, MPH, RD, FAND, selaku Monsanto Global Director for Food, Nutrition and Health Engagement menjelaskan mengenai hubungan pangan dan pertanian untuk peningkatan gizi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini dunia mengalami tantangan yang cukup sulit. “Salah satu tantangannya adalah dengan meningkatnya populasi dunia. PBB memprediksi secara global jumlah populasi manusia akan meningkat sebanyak 35 persen. Indonesia akan meningkat 47 persen pada tahun 2050 mendatang,” jelas Milton dalam presentasinya di Ruang Promosi Doktor, FKM UI.
Dengan banyaknya jumlah penduduk, tentu permintaan terhadap protein berkualitas baik seperti jagung juga meningkat. Menurut WHO, angkanya naik dari 9 persen pada tahun 1965 menjadi 14 persen pada tahun 2030.
Dalam setahun terakhir, Indonesia mengimpor jagung sekitar 3,5 juta ton bernilai sekitar 15 triliun rupiah. “Sehingga jika Indonesia dapat menghasilkan sendiri jagung tanpa harus impor nantinya hasil penjualan juga akan menguntungkan petani,” ujar Herry Kristanto, pimpinan dari Monsanto Indonesia.
Kalau menggunakan bioteknologi ini, dari 1 hektar bisa menghasilkan sekitar 6 ton jagung. Ini berarti ada penambahan sekitar 4 ton dari proses penanaman secara tradisional. " Dengan teknologi ini harusnya Indonesia bisa swasembada pangan,” tandasnya.
Menurut Milton, bioteknologi bukan menjadi sesuatu hal yang baru. Bioteknologi sebenarnya sudah ada di dunia sejak 30 tahun lalu. Ia mencontohkan, ubi jalar manis ternyata dihasilkan dari proses agrobakterium sehingga menghasilkan rasa yang manis dan bisa dikonsumsi hingga kini.
Tidak hanya jagung, Monsanto juga menghasilkan beberapa produk bioteknologi lain seperti, sayur dan juga buah. "Tomat, selada dan paprika juga kita kembangkan dengan cara bioteknologi. Tomat yang dihasilkan akan lebih manis, tekstur selada lebih renyah dan paprika bisa dihasilkan dengan ukuran yang lebih kecil,” jelas pria asal Amerika yang pernah bekerja di rumah sakit ini.
Milton menegaskan, penggunaan bioteknologi dapat membantu petani atasi serangan hama dan mendapatkan jenis bibit yang lebih unggul dan mudah tumbuh. Dalam proses ini kami juga menggunakan hardware seperti sensor alat pertanian dan juga software yang membantu informasi petani bagaimana cara bertani yang baik sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan bakar.
Pada bulan Desember lalu, Monsanto sudah memperkenalkan model untuk karbon produksi tanaman netral yang akan membantu mengurangi jejak karbon dari produksi tanaman.
Tidak perlu menambah lahan, bioteknologi dapat membantu ciptakan lebih banyak pangan dengan sedikit sumberdaya tapi padat gizi. Pada akhirnya dapat membantu petani untuk menanam benih yang tepat, di tempat yang tepat, pada waktu yang pas dengan produktivitas maksimal dan efisiensi.
Untuk pengembangan bioteknologi di Indonesia, Monsanto sendiri sudah mengantongi izin dari beberapa departemen pemerintahan dan masih dalam proses persetujuan.
Sedangkan Filipina sudah sejak tahun 2013 mengizinkan untuk bioteknologi jagung. Petani Filipina mengalami peningkatan pendapatan. Keuntungan biasanya hanya 21 persen dari biaya produksi, dengan bioteknologi justru mendapatkan laba yang lebih tinggi daripada non bioteknologi sebesar 38 persen.
Bioteknologi ini aman untuk pangan dan pakan serta bisa menambah nilai gizi suatu bahan makanan. Teknologi asal Amerika ini juga sudah mendapatkan tiga sertifikat dari Food and Drug Administration (FDA).

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN