Keterbatasan Dana, PBB Kurangi Jatah Makanan Pengungsi di Kenya

Keterbatasan Dana, PBB Kurangi Jatah Makanan Pengungsi di Kenya

- detikFood
Kamis, 20 Nov 2014 11:02 WIB
Foto: AFP
Jakarta -

Jatah makanan yang sangat penting bagi setengah juta pengungsi di Kenya akan dikurangi setengahnya. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) terpaksa melakukan hal ini karena keterbatasan bantuan.

"Mengurangi jatah makanan adalah pilihan terakhir," kata Wakil Ketua Program Pangan Dunia (WFP) PBB untuk Kenya, Paul Turnbull. Menurut ia, dibutuhkan lebih dari US$38 juta (Rp 461,4 miliar) dalam bentuk tunai untuk memenuhi kebutuhan operasional sampai enam bulan ke depan.

Termasuk di dalamnya US$15,5 juta (Rp 188,2 miliar) yang harus segera didapat untuk memberi makan para pengungsi sampai akhir Januari 2015. Di bulan tersebut, jatah makanan diperkirakan akan kembali normal saat bantuan dari Amerika Serikat yang cukup untuk enam minggu datang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jatah makanan yang terdiri dari sereal, kacang-kacangan, minyak goreng, campuran jagung dan kedelai, serta garam akan dikurangi dari 2.100 kkal menjadi 1.050 kkal per orang per hari.

"Kami melakukannya untuk mengakali keterbatasan makanan yang kami punya saat ini agar tersedia sampai 10 minggu ke depan. Sementara itu, kami terus meminta bantuan dari masyarakat internasional," kata Turnbull, seperti ditulis situs resmi WFP.

WFP juga menyediakan makanan khusus yang sudah diperkaya untuk anak-anak serta ibu hamil dan menyusui untuk mencegah kekurangan gizi. Anak-anak sekolah dasar dan taman kanak-kanak menerima bubur yang membantu mereka konsentrasi di kelas.

Makanan ini juga berfungsi sebagai insentif bagi keluarga mereka untuk mengirim anak-anaknya ke sekolah. Sejauh ini, kegiatan tersebut tidak terpengaruh pengurangan jatah makanan.

Pengurangan jatah makanan akan dilakukan di kompleks penampungan terbesar di dunia, yakni di kota Dadaab, Kenya, yang menampung lebih dari 350.000 pengungsi Somalia. Hal yang sama akan diterapkan di pengungsian di kota Kakuma yang menampung 125.000 pengungsi, termasuk orang-orang yang baru melarikan diri dari Sudan Selatan.

Diperlukan biaya $10 juta (Rp 121,4 miliar) per bulan untuk membagikan 9.700 ton makanan kepada 500.000 pengungsi. Namun, dengan banyaknya krisis di seluruh dunia, termasuk wabah virus Ebola di Afrika Barat dan perang di Syria, uang dari para donatur sangat kurang.

"WFP bergantung sepenuhnya pada sumbangan sukarela dari donatur. Dengan meningkatnya kebutuhan kemanusiaan di seluruh dunia, kami sadar anggaran ketat," kata Kepala WFP Afrika Timur dan Tengah Valerie Guarnieri.

Berdasarkan berita AFP (14/11/2014), kebanyakan pengungsi di camp-camp miskin di utara Kenya berasal dari negara-negara tetangga yang terlibat perang, yakni Sudan Selatan dan Somalia.

Di Somalia, pengungsi melarikan diri dari konflik selama dua dekade. Sementara itu, pengungsi dari Sudan Selatan berbondong-bondong ke Kenya setelah perang sipil pecah tahun lalu.

(fit/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads