Minyak Olive Palsu Bisa Dideteksi dalam Sekejap dengan Biosensor

- detikFood
Rabu, 29 Okt 2014 17:00 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Minyak olive atau zaitun telah lama digunakan untuk mengolah makanan sehat. Namun, jika kualitasnya buruk, manfaat minyak zaitun bagi kesehatan jadi tidak maksimal. Untuk itu, mahasiswa di Amerika mengembangkan sensor deteksi kualitas minyak zaitun dengan harga terjangkau dan praktis.

Pada Selasa (27/10), 6 mahasiswa dari University of California, Davis (UC Davis) meluncurkan bionsensor berteknologi tinggi untuk memeriksa kualitas minyak zaitun. Menurut salah satu mahasiswa, biosensor elektrokimia berbasis enzim ini tidaklah mudah untuk dibuat.

Minyak zaitun memiliki puluhan ribu senyawa kimia berbeda dan tidak ada satu pun yang menandakan minyak tengik. Mahasiswa bekerjasama dengan UC Davis Olive Oil Center dan ahli kontrol kualitas minyak zaitun untuk membantu identifikasi kombinasi senyawa yang dianggap lemah. Kemudian mereka mengembangkan sensornya untuk memindai minyak dan memeriksa senyawa tersebut.

Rencananya sensor akan tersedia untuk publik sebagai cara mudah dan murah untuk menguji kemurnian serta kesegaran minyak zaitun. Meski begitu, tim belum memberi nama untuk sensor seukuran telapak tangan tersebut.

Penjualan extra virgin olive oil di Amerika Serikat meningkat tiga kali lipat selama dua dekade terakhir. Akan tetapi tidak ada cara mudah untuk memastikan apakah kandungan minyak dalam botol benar-benar "extra virgin".

Minyak zaitun padahal bisa menjadi tengik karena paparan oksidasi, panas, atau cahaya matahari. Tidak hanya rasanya yang berubah, manfaat kesehatan dari minyak zaitun pun jadi menghilang bila hal itu terjadi.

Menurut studi tahun 2010 dari UC Davis Olive Oil Center, sebanyak 70 persen minyak zaitun komersil diketahui cacat karena tengik atau pemalsuan. Akan tetapi botol minyak zaitun tetap diberi label segar.

Tes penguji kualitas minyak zaitun yang ada saat ini cukup mahal, rumit dan hanya memberi pengukuran minyak mentah (crude). Dengan sensor baru, minyak zaitun dapat dideteksi secara lebih tepat. Harganya sendiri berkisar $60 (Rp 728.800) sampai $80 (Rp 971.800) saat dirilis di pasaran sekitar satu atau dua tahun mendatang.

Sensor saat ini dikembangkan untuk kompetisi International Genetically Engineered Mathematics (iGEM) yang berlangsung 3 Oktober sampai 3 November di Boston. Biosensor yang masih tampak seperti chip komputer, nantinya akan dikemas ulang untuk penggunaan publik. Diharapkan sensor bisa menjadi alat baru yang berguna bagi produsen, distributor, pengecer dan konsumen minyak zaitun.

(msa/odi)