Eat Local Mulai Promosikan Bahan Pangan Lokal di Jakarta Hari Ini

- detikFood Jumat, 26 Sep 2014 17:22 WIB
Foto: Detikfood Foto: Detikfood
Jakarta -

Produk pangan impor semakin membanjiri kota besar Indonesia. Orang memilihnya karena berkualitas tinggi. Agar produk lokal tak kalah saing, masyarakat perlu diajak mengonsumi hasil pangan lokal.
 
Agritektur, komunitas pemuda kreatif dari Bandung, membuat kampanye mandiri untuk mendukung produk lokal dan petani. Kegiatan bernama Eat Local ini berlangsung pada tanggal 26-27 September 2014 di The Stacks Burger, Kemang.
 
Banyaknya produk impor membuat Agritektur ingin memasarkan bahan pangan dari petani lokal. Menurut ketua Agritektur, Robbi Zidna Ilman, ‘Eat Local’ dibuat untuk memajukan petani serta menjaga lingkungan dengan membeli dan mengonsumsi makanan segar lokal.
 
"Dengan mempertemukan petani dan konsumen melalui kegiatan, bisa memperpendek rantai distribusi makanan sehingga mengurangi emisi karbon. Usaha sekecil apapun bisa membantu lingkungan dan membuat kita makin sadar dengan apa yang dimakan," ucap Robbi Zidna Ilman pada pembukaan Eat Local di The Stack Burger (26/09/2014).
 
Selama dua hari, petani lokal Bandung akan menjual hasil panen mereka di area parkir The Stacks Burger. Dalam kegiatan Parappa (Pasar Para Petani) ini, petani langsung menjual produknya pada konsumen. Berbagai komoditas petani pun dikemas secara modern dan menarik oleh Agritektur.
 
Salah satu petani yang berpartisipasi adalah Asep Kurnia. Ia menjual berbagai sayuran segar dan alami, tanpa pemakaian pestisida. Selain sayuran, Asep juga menjual tanaman herba seperti rosemary, oregano, thyme, dan mint karena tingginya permintaan pasar lokal.
 
Pembeli bisa menanam sendiri herba tersebut di rumah dengan petunjuk penanaman dari Asep. Ada pula herba yang dijual dalam bentuk kering.
 
Asep memang sudah sering mengikuti kegiatan yang diadakan Agritektur. Menurutnya kegiatan tersebut bisa membantu pemasaran dan meningkatkan kesejahteraan petani.
 
"Saya lebih senang langsung jual ke konsumen jadi ada interaksi. Sampai sekarang masukan dari konsumen tetap ada dan masih berhubungan dengan konsumen lama yang tanya tentang cara tanam herba dan sayuran," tutur Asep Kurnia yang akrab dipanggil Kang Asep.
 
Kegiatan Makan Udunan yang sudah sering diadakan pada acara Agritektur di Bandung juga digelar di Eat Local. Disini 20 pengunjung membayar masing-masing Rp 50.000 untuk Makan Udunan.
 
Pengunjung bisa memilih bahan 'belanjaan' seperti wortel, zuchini, tomat cherry, jamur champignon, dan selada romaine. Kemudian bahan dari petani lokal itu diolah langsung oleh mahasiswa NHI Bandung yang tergabung dalam Enhaii Culinary Club. Setelahnya, pengunjung dapat makan siang bersama dalam satu meja panjang.
 
Disamping Makan Udunan, ada juga workshop membuat butter dan cupping coffee yang dipandu Agritektur. Selain itu ada workshop Rawcal dari Burgreens Raw Explorer mengenai raw food dan raw dishes dengan penggunaan bahan lokal. Seluruh workshop dapat diikuti secara gratis.
 
‘Eat Local’ menjadi kegiatan pertama Agritektur di Jakarta untuk memperluas pasar dan memperingati Hari Tani Sedunia yang jatuh pada 24 September lalu.
 
Sebelumnya Agritektur banyak melakukan kegiatan serupa di Bandung seperti Parappa, Camp on Farm dan Secret Dining. Nantinya komunitas ini ingin bisa berkembang sampai ke seluruh Indonesia dengan memberdayakan petani lokal di masing-masing daerah.



(lus/odi)