Wah, Ternyata Nasi Goreng Jauh Lebih Populer dari Tom Yam!

- detikFood Jumat, 26 Jul 2013 17:30 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Setelah dinobatkan sebagai salah satu negara dengan hidangan terenak di dunia, saat ini masyarakat Indonesia patut berbangga hati. Pasalnya, sebuah penelitian terbaru menyatakan ada tiga hidangan Indonesia yang kepopulerannya mengalahkan hidangan Asia lainnya.

Prapancha Research (PR) menemukan bahwa hidangan asli Indonesia yaitu nasi goreng, rendang, dan sate lebih terkenal secara global dibanding rata-rata masakan yang berasal dari Asia melalui jejaring sosial, Twitter. Nasi goreng menempati posisi pertama dengan jumlah perbincangan hingga 2,3 juta di luar Indonesia.

Rendang yang saat ini menarik perhatian dunia karena dinobatkan sebagai hidangan terenak di dunia, hanya menempati posisi kedua dengan 1,1 juta perbincangan di luar Indonesia. Selanjutnya adalah sate dengan 533 ribu perbincangan di luar Indonesia.

Rendang dan nasi goreng, keduanya masuk dalam daftar 50 makanan terlezat di dunia versi CNN tahun 2011. Dalam daftar tersebut, rendang menempati posisi nomor satu dan nasi goreng di nomor kedua. Untuk masakan mancanegara seperti tom yam dari Thailand hanya memperoleh 254 ribu perbincangan.

Masuk dalam lima besar adalah bulgogi dengan perolehan 210 ribu perbincangan dan bibimbap dengan 162 ribu perbincangan.

“Kami membandingkannya dengan tom yam,makanan terkenal khas dari Thailand. Bulgogi, masakan daging tersohor dari Korea. Lalu bibimbap, nasi campur dari negara yang sama, yang jauh tertinggal dibandingkan pembicaraan tentang masakan Indonesia” ujar Cindy Herlin Marta, analis PR dalam siaran pers (26/07/2013).

Data terbaru ini mengubah pandangan masyarakat bahwa hidangan Asia lainnya lebih populer. Tapi, dari segi persebaran restoran Indonesia, walaupun masih kalah daripada gerai masakan China dan Jepang, ternyata hidangan Indonesia terbukti lebih unggul dan populer.

Tapi, sampai saat ini gerai makanan asli Indonesia masih langka sehingga warga mancanegara tidak mencicipi rasa otentik. Terjadilah banyak salah kaprah dan mengira hidangan asli Indonesia berasal dari Thailand, Singapura, atau Malaysia.

Untuk itu diperlukan usaha lebih untuk mengembangkan potensi kuliner Indonesia. “Nilai strategis ekspansi ini berlimpah: memperkuat kebanggaan nasional, mengundang turis ke tanah air, membuka pasar ekspor bahan pangan, mendatangkan devisa, mendorong pertumbuhan ekonomi. Saya kira, tidak ada alasan bagi pihak-pihak terkait, pemerintah maupun swasta, untuk melewatkan kesempatan ini,” tutup Cindy.

(fit/odi)