Berdasarkan berita yang dilansir Reuters (14/03/13), Red Bull mengaku sudah beberapa minggu ini dikirimi surat ancaman. Si pemeras mengancam untuk mengotori kaleng minuman dengan feses jika sejumlah uang yang diminta tak dibayarkan.
Red Bull menyebarkan informasi ini ke masyarakat untuk menetralkan pengaruh si pemeras. "Kami bekerjasama erat dengan polisi. Menurut kami, pelakunya berada tak jauh dan akan segera ditemukan," ujar juru bicara Red Bull.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Red Bull dikenal banyak berinvestasi pada pemasaran produknya dan sering mensponsori ajang olahraga, namun tak banyak bicara jika sudah menyangkut perusahaannya sendiri. Makanya, pengumuman tentang ancaman ini dinilai cukup mengejutkan.
Meski demikian, menurut beberapa pakar pemasaran, keputusan ini justru akan berdampak baik bagi Red Bull. Gordon Pincott, ketua solusi global di agensi spesialis brand Millward Brown, mengatakan bahwa hal positif dari keputusan ini adalah Red Bull tak membiarkan rumor terus berkembang.
Menurut Jordi Connor, kepala perencanaan di agensi pemasaran brand WPP's Dialogue, masyarakat kini tahu bahwa mereka harus memerhatikan kaleng Red Bull secara saksama.
"Red Bull mungkin akan mengalami penurunan penjualan dalam jangka pendek, namun pengumuman tersebut akan menguatkan ikatan kepercayaan antara perusahaan ini dengan para konsumen," komentar Connor.
Red Bull adalah minuman berenergi paling populer di dunia. Tahun lalu, Red Bull menjadi merek minuman ringan ketiga terbesar di dunia setelah Coca-Cola dan Pepsi. Minuman ini terinspirasi dari Krating Daeng, minuman berenergi di Thailand yang diciptakan oleh Chaleo Yoovidhya.
Dietrich Mateschitz, pengusaha asal Austria, memodifikasi bahan-bahannya agar cocok dengan lidah orang Barat. Kemudian pada tahun 1987, Mateschitz bekerjasama dengan Yoovidhya mendirikan Red Bull GmbH di Austria.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN