Pada konferensi Computer Human Interaction di Austin, Texas, Amerika Serikat baru-baru ini, seorang reporter bernama Nick Barber mencoba alat tersebut. Namun, ia harus menandatangani surat pernyataan terlebih dahulu bahwa ia tidak akan menuntut pihak penyelenggara jika terjadi sesuatu di luar kendali.
Ia menggenggam sebuah gelas berisi limun. Di sedotannya dipasangi kabel yang mengalirkan listrik 9 volt. Di sisi gelas terdapat semacam tombol putar untuk mengatur besar aliran listrik. Nick mencicipi rasa limun sebelum disetrum, kemudian mencoba lagi setelah listriknya dinyalakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya ia mencoba sepotong keju yang juga dialiri listrik, namun ia sulit mendeteksi perbedaan rasanya dibanding keju biasa. βPerubahan rasa pada makanan padat sulit dirasakan karena saya harus mengunyah makanan dengan garpu di dalam mulut untuk menghantarkan listrik,β jelas Nick seperti dikutip dari Daily Mail.
Makanan berlistrik ini dikembangkan oleh mahasiswa Meiji University bernama Hiromi Nakamura. Menurut Hiromi, listrik bisa menggantikan garam dalam makanan karena menghasilkan rasa asin yang kuat. Nantinya, penderita darah tinggi atau penyakit jantung dapat menikmati makanan asin favorit mereka dengan kadar garam yang lebih rendah, namun tetap terasa enak.
Hiromi juga mengatakan bahwa percobaan ini dapat membuat rasa tertentu terekam sebagai data elektronik. Di kemudian hari, rasa yang sama dapat diunduh dan diciptakan kembali. Listrik sendiri tidak memiliki nilai gizi dan kalori serta tidak mengubah susunan kimiawi makanan.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN