Tempe dibuat dengan beberapa tahap. Mulai dari proses penyortiran kedelai, pencucian, perebusan, kemudian direndam semalaman. Selanjutnya dilakukan proses pengupasan kulit ari kedelai, pencucian keping kedelai, ditanak dalam dandang, lalu dihamparkan di atas tampah. Kemudian ditambahkan ragi, lalu dibungkus dan diperam, barulah tempe siap dipasarkan.
Sayangnya, faktor kebersihan dan ramah lingkungan belum jadi prioritas bagi sebagian produsen tempe. Padahal, tempe merupakan salah satu jenis makanan yang dijual dan dikonsumsi secara luas dan rutin oleh masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βTujuan Mercy Corps adalah untuk mempromosikan produksi dan konsumsi tahu dan tempe yang berkelanjutan. Caranya adalah dengan mengadakan riset pasar, edukasi konsumen, sertifikasi, serta membuka akses keuangan dan membantu pembiayaan bagi produsen tahu dan tempe yang ingin meningkatkan mutu produksiβ, jelas Ana Suryana, Project Officer Mercy Corps kepada detikfood.
Di awal mula kampanye tahu dan tempe sehat, Ana dan tim Mercy Corps mengaku sempat kesulitan. Pengusaha tahu dan tempe sudah lama bahkan turun temurun menggunakan cara yang tidak higienis. Seperti misalnya penggunaan drum bekas oli, kayu bakar, serta faktor kebersihan dari para pekerjanya yang kurang diperhatikan. Untuk itu, penggunaan dandang berbahan stainless steel dan bahan bakar gas bisa jadi solusi yang lebih baik.
Dalam menjalankan misinya, MercyCorps bekerjasama dengan PRIMKOPTI (Primer Koperasi Tempe Tahu Indonesia). Dengan bekerjasama dengan badan setempat, organisasi inipun jadi lebih mudah merangkul para pengusaha tahu dan tempe.
Diakui Ana, tahu dan tempe yang dihasilkan dengan dandang stainless steel dan bahan bakar gas mutunya jadi meningkat. βJika dengan drum lama dan kayu bakar proses pemasakan bisa memakan waktu hingga 2,5 sampai 3 jam, dengan dandang stainless steel dan gas, prosesnya bisa lebih singkat sekitar 1,5 hingga 2 jam saja. Asapnya pun tak lagi mengganggu dan mencemari lingkungan. Tempenya juga bisa lebih tahan lama, dan yang paling penting lebih hemat tenaga dan biayaβ, ungkapnya.
Pada tahun 2009, BSN (Badan Standardisasi Nasional) juga telah membuat Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk tempe yang mencakup nutrisi, cara produksi, cara penyimpanan dan penanganan, serta pengemasan dan pelabelan. Bahkan tak hanya berstandar nasional, nantinya akan ada standar internasional untuk produk tempe. Nah, diharapkan para produsen, pemerintah dan masyarakat bisa saling bekerjasama dalam mencapai standarisasi ini.
(Odi/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN