Bango Galang Dukungan Untuk Lestarikan Semur

Bango Galang Dukungan Untuk Lestarikan Semur

- detikFood
Kamis, 08 Mar 2012 15:46 WIB
Foto: www.detikfood.com
Jakarta - Masakan Indonesia mendapat banyak pengaruh dari Melayu, peranakan Cina, atau Barat. Meski demikian, negeri kita juga punya kuliner asli, salah satunya adalah semur. Oleh karena itu, warisan kuliner ini perlu mendapat pengakuan dunia.

Bango adalah salah satu pihak yang sedang giat melakukan Kampanye Semur. Perusahaan kecap manis ini tengah menggalang dukungan dari berbagai pihak dan mengedukasi masyarakat. Tujuannya adalah agar semur tercatat sebagai kuliner khas Indonesia di Intangible Cultural Heritage UNESCO.

Sejak tahun lalu, Bango sudah melakukan langkah-langkah pendahuluan. Tim Bango sudah melakukan riset dan mengumpulkan data terkait semur dan kuliner nusantara. Mereka juga akan mengadakan diskusi panel dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif atau Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Nasional terkait pendaftaran semur ke UNESCO.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€œKami berperan sebagai pionir sekaligus lokomotif dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Setelah itu, teknis inventarisasi semur sebagai intangible cultural heritage akan kami serahkan kepada pemerintah,” tutur Agus Nugraha, Senior Brand Manager Bango, saat ditemui di roadshow Bango, Rabu (7/3).

Mengapa semur? Jika ditelusuri dari sejarah, sejak abad ke-9 M, masyarakat Indonesia sudah mengenal penggunaan daging hewan dalam masakan. Resep semur (smoor) tercantum dalam buku resep tertua yang berhasil ditemukan oleh tim Bango.

Setelah dipelajari, semur memang asli Indonesia. Apalagi kecap manis banyak digunakan dalam resep semur. β€œMemang ada banyak versi kecap di dunia, namun hanya ada satu kecap manis, yaitu di Indonesia,” ujar Agus.

Semur sebenarnya tersebar di Indonesia dengan nama dan karakteristik berbeda-beda. Sebut saja rabeg (semur kambing khas Banten) dan andilan (semur kerbau khas Betawi). Selama ini mungkin kita hanya mengenal semur daging, ayam, atau jengkol. Padahal, bahan lain juga dapat digunakan. Misalnya ikan dan sayuran seperti labu, brokoli, dan oyong.

Roadshow yang diselenggarakan di SMK Jayawisata I Menteng juga menghadirkan Chef Ragil Imam Wibowo. Menurut Chef Ragil, banyak orang malas membuat semur karena membutuhkan waktu lama dan rumit. β€œPadahal, semur bisa diolah dengan mudah,” kata praktisi kuliner ini. Ia pun mencontohkan pembuatan Semur Soun Yogyakarta, Semur Bandeng Surabaya, dan Semur Lidah Bali.

Berbagai resep semur didokumentasikan dan dikumpulkan sebagai buku resep yang akan diluncurkan April ini. β€œTantangan kami adalah membuat masyarakat tahu tentang seluk-beluk semur dan mau mempraktikkannya,” ucap Agus menutup roadshow tersebut.

(Odi/Odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads