Banyak orang yang mempercayakan urusan perutnya pada sajian yang bernama mi instan atau 'instant noodle'. Tiap kali berbelanja para ibu tak lupa menyisipkan mi instan dalam daftar kebutuhannya. Anak kos selalu menyimpan beberapa bungkus mi instan agar tidak kelaparan di malam hari, para pecinta olahraga gunung pun turut membawa mie instan sebagai logistik wajib.
Tak heran memang mi instan adalah hidangan wajib bagi para penyukanya, karena selain praktis, cepat, lezat dan murah. Namun mi instan perlu diolah dengan tepat agar memiliki kandungan gizi yang cukup. Selain itu juga tidak dianjurkan dikonsumsi terus-menerus karena merupakan makanan awetan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mi mengalami perkembangan baik pada tahun 1971 ketika Nissin memperkenalkan mi dalam gelas bermerek Cup Noodle, berwadah sytorofoam tahan air yang bisa digunakan untuk memasak mie. Inovasi berikutnya ialah menambahkan sayuran kering ke gelas sebagai kelengkapan hidangan mie.
Menurut sebuah survei Jepang pada tahun 2000, mi instan adalah ciptaan terbaik Jepang abad ke-20. Hingga tahun 2002, setidaknya ada 94 milyar porsi mie instan dikonsumsi setiap tahunnya di seluruh dunia.Bisa dipastikan hampir setiap orang telah mencicipi mi instan atau mempunyai persediaan mi instan di rumah.
Saat ini, Indonesia adalah produsen mi instan yang terbesar di dunia. Dalam hal pemasaran, pada tahun 2005, Cina menduduki tempat teratas, dengan 45 milyar paket mie instan per tahun, disusul dengan Indonesia dengan 14 milyar bungkus dan Jepang dengan 5,4 milyar bungkus. Namun Korea Selatan mengonsumsi mi instan terbanyak per kapita, dengan rata-rata 69 juta bungkus per tahun.
(eka/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN