Ingin Tidur Nyenyak? Hindari Makanan Berlemak!

Ingin Tidur Nyenyak? Hindari Makanan Berlemak!

- detikFood
Minggu, 26 Okt 2008 11:58 WIB
Jakarta - Apakah Anda mersa lemas, kurang segar saat bangun tidur? Cobalah ingat-ingat makanan apa saja yang Anda makan semalam. Semangkuk soto Betawi? Sirloin Steak? Atau semangkuk Caesar Salad? Ternyata makanan berpengaruh pada kenyenyakan tidur!

Orang seringΒ  mengatakan 'you are what you eat'. Artinya bagaimana kesehatan Anda bisa terbaca dari makanan yang Anda sukai atau sering Anda makan. Hal inilah yang dibuktikan oleh sebuah riset di Inggris baru-baru ini.

Makanan berlemak atau banyak mengandung kolesterol bisa mengganggu proses istirahat selama tidur. Bukan hanya membuat tidur kurang nyenyak tetapi bisa juga menjadi gangguan tidur 'sleep apnea', terhentinya nafas secara tiba-tiba saat tidur.Β 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebuah studi mencatat adanya hubungan antara gangguan pernapasan ketika tidur, diet ketat, asam lemak, kolesterol, khususnya pada wanita. Penemuan tersebut tidak mengaitkan dengan faktor penyebab obesitas. Meskipun gangguan sulit bernapas ketika tidur erat kaitannya dengan obesitas, tapi diet tidak lantas menjadi solusi yang baik untuk mengatasinya.

Hasil penelitian Journal of Clinical Sleep Medicine yang disiarkan tanggal 15 Oktober lalu menguji data dari dari 320 orang pria dan wanita yang menjalani tes lebih dari separuhnya mengalami obesitas. Para peneliti dari University of Arizona College of Medicine dan Harvard Medical School menemukan hubungan antara tingginya angka gangguan pernafasan dengan tingginya konsumsi kolesterol, lemak trans dan kecenderungan konsumsi asam lemak jenuh dan total lemak yang tinggi.

Meskipun teleh disesuaikan dengan index massa tubuh, jumlah jam tidur dan umur, orang yang memingkat Recommended Daily Intake (RDI) tinggi makan secara rata-rata, 88% milligram lebih kolesterol per hari dibandingkan dengan yang memiliki tingkat RDI rendah. Wanita dengan tingkat RDI lebih tinggi secara rata-rata makan lebih banyak porsi protein, jumlah lemak dan asama lemak jenuh. (Protein tinggi dikaitkan dengan kelebihan kalori).

Para peneliti percaya karena gangguan pernafasan dihubungkan dengan diet sembarangan untuk menurunkan berat badan. Gangguan pernafasan bisa memberi akibat terganggunya hormon yang mengatur selera makan. Mereka juga menduga kemungkinan adanya hubungan antara gangguan nafas saat tidur dengan makan terlalu banyak makanan berlemak.

Karena itu sebaiknya kurangi konsumsi makanan berlemak jika ingin tidur dengan pulas. Bukan tidak mungkin gangguan pernafasan selama tidur terutama berhentinya nafas secara mendadak bisa berakhir dengan kematian!

(dev/Odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads