Cari sarapan di kota Semarang? Belum sampai mata terbuka penuh, si mbok penjaja nasi ayam sudah berteriak nyaring dan merdu. Nasi ayam bu....! Nasi ayam...!!! Dijamin mata langsung melek. Penjualnya masih berkain batik, berkebaya, menggendong panci berisi nasi gurih yang ditaruh dalam bakul, di atas panci di display aneka lauk, tahu, opor ayam, satai usus, satai hati ampela, satai kulit, saren (darah ayam plus satai telur puyuh).Di panci lain yang lebih kecil, biasanya ditenteng, berisi sambal goreng labu siam, kuah santannya mlekoh kemerahan. Di panci yang ditaruh dibawahnya (panci bersusun),kuah opor ayam yang encer kekuningan. Nasi ayam disajikan dalam pincuk (piring daun pisang), porsinya keil diberi sesuwir daging opor ayam, seiris tahu, seiiris telur, sedikit sambal goreng labu siam dan disiram kuah opor. Makannya pakai suru (sendok daun pisang). Kalau kurang kenyang bisa ditambah aneka satai. Rasanya lezat dan terkira, apalagi disantap sambil lesehan di depan si mbok penjualnya. Belum mandi dan sikat gigi pun rasanya nikmat tiada dua! Salah satu fast food tradisional yang harus dilestarikan! Nyam..nyam...! (dev/)
Nasi Ayam Bu...!!!
Kamis, 22 Nov 2007 11:17 WIB
Jakarta - Penjual nasi ayam dengan gendongan ini selalu berteriak menjajakan dagangannya keliling perumahan dan kampung di Semarang. Nasinya dipincuk daun pisang, hangat-hangat, porsinya serba sedikit tetapi komplet. Pas buat pengisi perut di pagi hari. Nasi ayam bu...! Nasi ayam nyah...!
Cari sarapan di kota Semarang? Belum sampai mata terbuka penuh, si mbok penjaja nasi ayam sudah berteriak nyaring dan merdu. Nasi ayam bu....! Nasi ayam...!!! Dijamin mata langsung melek. Penjualnya masih berkain batik, berkebaya, menggendong panci berisi nasi gurih yang ditaruh dalam bakul, di atas panci di display aneka lauk, tahu, opor ayam, satai usus, satai hati ampela, satai kulit, saren (darah ayam plus satai telur puyuh).Di panci lain yang lebih kecil, biasanya ditenteng, berisi sambal goreng labu siam, kuah santannya mlekoh kemerahan. Di panci yang ditaruh dibawahnya (panci bersusun),kuah opor ayam yang encer kekuningan. Nasi ayam disajikan dalam pincuk (piring daun pisang), porsinya keil diberi sesuwir daging opor ayam, seiris tahu, seiiris telur, sedikit sambal goreng labu siam dan disiram kuah opor. Makannya pakai suru (sendok daun pisang). Kalau kurang kenyang bisa ditambah aneka satai. Rasanya lezat dan terkira, apalagi disantap sambil lesehan di depan si mbok penjualnya. Belum mandi dan sikat gigi pun rasanya nikmat tiada dua! Salah satu fast food tradisional yang harus dilestarikan! Nyam..nyam...! (dev/)
Cari sarapan di kota Semarang? Belum sampai mata terbuka penuh, si mbok penjaja nasi ayam sudah berteriak nyaring dan merdu. Nasi ayam bu....! Nasi ayam...!!! Dijamin mata langsung melek. Penjualnya masih berkain batik, berkebaya, menggendong panci berisi nasi gurih yang ditaruh dalam bakul, di atas panci di display aneka lauk, tahu, opor ayam, satai usus, satai hati ampela, satai kulit, saren (darah ayam plus satai telur puyuh).Di panci lain yang lebih kecil, biasanya ditenteng, berisi sambal goreng labu siam, kuah santannya mlekoh kemerahan. Di panci yang ditaruh dibawahnya (panci bersusun),kuah opor ayam yang encer kekuningan. Nasi ayam disajikan dalam pincuk (piring daun pisang), porsinya keil diberi sesuwir daging opor ayam, seiris tahu, seiiris telur, sedikit sambal goreng labu siam dan disiram kuah opor. Makannya pakai suru (sendok daun pisang). Kalau kurang kenyang bisa ditambah aneka satai. Rasanya lezat dan terkira, apalagi disantap sambil lesehan di depan si mbok penjualnya. Belum mandi dan sikat gigi pun rasanya nikmat tiada dua! Salah satu fast food tradisional yang harus dilestarikan! Nyam..nyam...! (dev/)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN