Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa sih jajanan ini dinamakan pisang plenet? Ya, selain memang terbuat dari pisang penambahan kata 'plenet' ini sebenarnya bukan tanpa maksud. Plenet sendiri merupakan sebutan orang Semarang yang artinya memencet alias memipihkan. Tak heran karena ditilik dari cara pembuatannya si pisang memang dipencet-pencet hingga nyaris gepeng atau pipih.
Jajanan ini dulu dijual di gerobak-gerobak dorong dan mangkal di sepanjang jalan Gajah Mada Semarang pada sore hari. Biasanya sang penjual memakai pisang kepok yang sudah matang sehingga mudah untuk dipencet-pencet dan rasanyapun manis. Pertama-tama pisang dibakar diatas arang dengan bara api kecil. Setelah pisang layu dan sedikit gosong kehitaman barulah diangkat dan ditaruh di atas wadah, kemudian ditekan-tekan dengan papan kecil hingga nyaris pipih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Semarang sendiri kini jajanan ini sudah tak banyak lagi dijumpai meskipun beberapa diantaranya masih bertahan. Seperti gerobak Pisang Plenet Pak Tuko yang mangkal di pasar Semawis dan pusat jajanan toko Sri Ratu. Pak Tuko yang berjualan pisang plenet sejak tahun 1960 ini tetap bertahan dengan pelanggan yang terus menyusut. Sementara kualitas tetap dipertahankan seperti pisang kepok yang masak pohon agar rasanya tetap legit.
Bagi saya pisang plenet ini paling enak disantap untuk teman ngobrol di sore hari dengan secangkir teh atau kopi. Saat disantap samar-samar tercium aroma bau gosong pisang plenet yang khas. Kini setangkup pisang plenet dipatok seharga Rp 2500,00 . Wah... apalagi selain murah rasanya uenakk tenan! (eka/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN