Mendoan Oh Mendoan

Mendoan Oh Mendoan

- detikFood
Senin, 03 Nov 2008 14:29 WIB
Jakarta - Tempe tipis, lebar, berbalut tepung asal Purwokerto ini rasanya memang bikin ketagihan. Apalagi jika disantap bersama cabai rawit atau cocolan kecap pedas saat masih kemepul panas. Huah huah! Dijamin jadi kepingin lagi dan lagi...

Meskipun bukan orang Purwokerto, namun saya salah satu penggemar tempe mendoan. Ya, bentuknya super tipis, lebar dan rasanya yang gurih lembut membuatnya kian digandrungi. Tak heran jika para penjual tempe mendoan di Jakarta kini mulai bermunculan mengingat banyaknya penggemar.

Konon makanan ini disebut mendoan karena berasal dari bahasa Jawa Banyumas yaitu 'mendo' yang artinya setengah matang. Hmm... menurut saya cukup masuk akal, karena proses pembuatan tempe yang setelah dibalut tepung tipis ini adalah digoreng setengah matang. Kalau garing dan matang? Tidak bisa disebut tempe mendoan namanya!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mendoan ini biasanya saya santap di sore hari sebagai camilan. Meskipun konon di tempat asalnya sendiri, mendoan ternyata menjadi teman lauk-pauk makan siang atau malam. Pedagang mendoan biasa saya jumpai di pinggir-pinggir jalan alias kaki lima sederhana.

Tempe yang tipis ini (dibuat khusus untuk mendoan dan dibungkus daun pisang) sebelum digoreng dicelupkan dulu pada adonan tepung. Adonan tepungnya terbuat dari campuran tepung beras dan tepung terigu plus irisan daun bawang, bumbu yang berupa bawang putih, ketumbar dan garam yang dihaluskan. Semua diaduk menjadi satu.

Setelah dicelup adonan tepung, tempe mendoan siap digoreng. Ketika menggoreng, kuncinya minyak tidak boleh pelit dan harus dalam keadaan super panas sehingga matangnya merata. Nah, saat tepung tampak beku dan mulai matang mendoan ini harus segera diangkat dari penggorengan. Tidak boleh terlalu lama karena nanti akan kecokelatan dan jadi tempe goreng tepung bukan mendoan lagi.

Biasanya mendoan disajikan beralaskan daun pisang sehingga baunya makin harum. Mendoan ini aslinya disajikan bersama dengan cabai rawit. Namun kini ada pula yang menyajikannya bersama kecap plus irisan cabai rawit atau sambal kacang. Paling enak disantap saat masih kemepul panas. Rasanya gurih, lembut, puedess hmm... uenakk! (dev/Odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads