detikfood
Kamis, 22/08/2013 18:04 WIB

Murah dan Enak, Mie Instan Jadi Solusi Atasi Kelaparan Dunia

Deani Sekar Hapsari - detikFood
Minuman dan Bahan Minuman
  • Bluestar
  • Sapphire Springs
  • Monair
Roti dan Kue
Flavor
thumbnail Foto: Thinkstock
Mie instan menggeser posisi serangga sebagai solusi masalah kelaparan dunia. Menurut tiga antropolog asal Amerika Serikat, mie instan kini bisa memenuhi kebutuhan masyarakat miskin seluruh dunia karena harganya yang murah.

Lewat buku berjudul Noodle Narratives yang ditulis Frederick Errington dari Trinity College, Tatsuro Fujikura dari Kyoto University dan Deborah Gewertz dari Amherst College, mereka mengulik lebih jauh sejarah dan industri mie instan. Dilaporkan pada tahun 2012, tercatat 100 milyar konsumsi mie instan di dunia.

Berawal dari inovasi Momofuku Ando di Jepang pada tahun 1957, mie instan langsung menjadi hidangan populer penghilang lapar di seluruh dunia. Memenuhi minat masyarakat, di Jepang sendiri terdapat 600 rasa baru mie instan setiap tahun nya. Tapi, konsumsi masyarakat Jepang jauh tertinggal dari masyarakat China yang mengkonsumsi 1,400 mie setiap detiknya.

Mie instan terbuat dari tepung gandum yang tinggi indeks glikemik serta minyak yang tinggi lemak jenuh. “Semua kandungan lemak tersebut bisa membuat perut kenyang lebih lama dan membantuk menurunkan kadar indeks glikemik. Kuahnya juga bisa memuaskan rasa lapar lebih lama,” tutur Frederick Errington kepada NPR (22/08/2013).

Tentunya pernyataan mengenai mie instan sebagai 'penyelamat kelaparan dunia menjadi kontroversi. Tapi, tim penulis mengatakan hal tersebut tidak bisa terhindarkan, karena di banyak kota masyarakat miskin kekurangan altenatif makanan terjangkau yang lebih menyehatkan daripada ramen untuk tetap bertahan hidup.

“Produk mie instan sangat murah dan enak, produk tersebut juga bisa diubah menjadi citarasa masing-masing negara,” tutur Deborah Gewertz. Di Thailand terdapat produk mie instan berbumbu daun bawang dan daun ketumbar, Meksiko bisa membeli mie instan Mrauchan dengan udang, jeruk nipis, dan habanero. Bahkan di Papua Nugini, bahan makanan ini dimasukkan dalam ritual adat.

Sebagai solusinya, Deborah menyarankan cara terbaik untuk membantu masyarakat misikin yang bergantung pada mie instan adalah untuk membuat produk yang lebih bernutrisi. Perubahan bisa dilakukan dengan produk mie instan rendah lemak, tinggi serat, dan diperkaya vitamin, walaupun hal tersebut secara langsung akan mempengaruhi harga.

(odi/dni)


 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com
Telepon 021-7941177 (ext.524).