detikfood
Jumat, 10/05/2013 11:17 WIB

Konsumsi Paprika Dua Kali Seminggu Bisa Turunkan Risiko Parkinson

Deani Sekar Hapsari - detikFood
Daging & Daging Olahan
  • Baso YANGINI,
  • Abon Ikan Cap Y & D
  • Abon Ikan Cap Rumah Besar
Obat-obatan
Jamu
thumbnail Foto: Thinkstock
Paprika ditambahkan dalam hidangan tidak sebatas untuk warna cantik dan rasa manis khas. Sebuah penelitian terbaru menyatakan konsumsi paprika secara teratur dapat menurunkan risiko penyakit Parkinson hingga 50 persen.

Menurut National Parkinson Foundation, orang dengan penyakit Parkinson mengalami kerusakan pada 80 persen syaraf yang memproduksi dopamine, senyawa yang mengendalikan fungsi otot. Gejala utamanya adalah tremor, pergerakan lambat, tangan atau kaki tegang, dan masalah keseimbangan.

Tim peneliti dari University of Washington, Seattle, Amerika Serikat menyatakan manfaat kesehatan ini datang dari kandungan nikotin di dalam paprika. Jika ditelusuri, paprika dan tembakau berasal dari satu famili yang sama bernama Solanaceae, sehingga tiap buah paprika mempunyai sedikit kandungan nikotin.

Dalam studi ini, peneliti meneliti 490 orang yang baru didiagnosa penyakit Parkinson, lalu dibandingkan dengan 644 orang yang tidak menderita penyakit itu. Hanya 11 persen dari kelompok yang menderita Parkinson dan 5 persen dari orang dalam grup lainnya mempunyai riwayat keluarga menderita penyakit tersebut. Hal ini bisa meningkatkan risiko terserang Parkinson.

Para tim peneliti meminta para partisipan menjawab pertanyaan mengenai kebiasaan makan dan penggunaan tembakau.

Peneliti menemukan bahwa konsumsi paprika dua kali dalam seminggu bisa menurunkan risiko hingga 30 persen. Selain itu, orang yang mengonsumsi paprika lima hingga enam kali selama seminggu bisa menurunkan risiko hingga 50 persen dibandingkan yang mengonsumsi kurang dari satu paprika seminggu.

“Manfaat konsumsi paprika terhadap syaraf ini lebih jelas terlihat pada orang yang tidak menggunakan tembakau secara teratur,” tutur Susan Searles Nielsen selaku peneliti kesehatan lingkungan dan pekerjaan di University of Washington. Studi ini akan dipublikasikan pada 9 Mei 2013 di jurnal Annals of Neurology.

Nielsen menekankan bahwa penelitian ini hanya menunjukkan hubungan, bukan sebab dan pengaruh. “Walaupun sangat menarik untuk berpikir bahwa konsumsi paprika dapat melindungi penyakit Parkinson, kita harus mempertimbangkan banyak penjelasan lainnya. Karenanya dibutuhkan penelitian lebih lanjut,” tutur Nielsen.
(odi/fit)


 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com
Telepon 021-7941177 (ext.524).