detikfood

Minggu, 03/03/2013 13:27 WIB

Wine dari Tulang Harimau Jadi Obat Rematik di Cina

Fitria Rahmadianti - detikFood
Wine dari Tulang Harimau Jadi Obat Rematik di Cina Foto: Panthera
Ramuan Cina dikenal manjur untuk mengobati beragam penyakit. Biasanya bahan yang digunakan adalah alami, meski sering pula terkesan tak masuk akal. Salah satunya adalah wine yang terbuat dari rendaman tulang harimau.

Wine populer ini dibuat dengan merendam tulang dan bahkan seluruh tengkorak harimau dalam alkohol. Lama perendamannya beragam. Terkadang tulang tersebut direndam berkali-kali agar menghasilkan banyak wine.

Ramuan ini diminum beberapa kali sehari. Orang Cina yakin bahwa wine tulang harimau dapat menyembuhkan sakit otot, rematik, arthritis, sampai lumpuh. Konon, wine tersebut juga dapat mendorong aliran darah dan qi (konsep Cina tentang energi kehidupan).

Umumnya, wine tulang harimau dijual dalam botol-botol kaca mungil dengan harga mulai $100-760 (Rp 968.000-7,4 juta) per botol. Adapula botol besarnya. Berdasarkan laporan The Guardian pada 2011, minuman beralkohol tersebut pernah dilelang dengan harga pembuka $760-30.400 (Rp 7,4-294 juta) per peti.

Tentu saja perburuan ini memancing protes keras dari kelompok-kelompok pecinta hewan. Environmental Investigation Agency (EIA) yang bermarkas di Inggris membuat laporan berjudul 'Hidden in Plain Sight: China’s Clandestine Tiger Trade' tentang pelanggaran larangan perdagangan tulang harimau di Cina.

"Terdapat kontradiksi antara sikap internasional Cina yang mendukung usaha untuk menyelamatkan harimau liar, dengan kebijakan domestik yang mendorong permintaan dan menggerakkan perburuan macan liar. Hal ini merupakan kontradiksi terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah konservasi harimau," tegas Debbie Banks, ketua EIA, dalam website resmi lembaga tersebut.

Pada 2010, Cina merupakan salah satu perwakilan dari 13 negara yang berjanji membantu Global Tiger Recovery Program. Artinya, mereka akan menindak keras perdagangan ilegal serta perburuan harimau dan bagian tubuhnya.

EIA menuding pemerintah Cina mengijinkan pemakaian tulang harimau yang ditangkarkan untuk pembuatan wine. Hal ini menunjukkan bahwa Cina tak serius dalam membantu menggandakan populasi harimau liar di dunia pada 2022.

Para ahli memperkirakan jumlah harimau liar 3.200-3.500 ekor. Sementara itu, populasi harimau di 200 penangkaran dan kebun binatang Cina diyakini sebanyak 5.000 ekor. Tempat ini sering disebut-sebut sebagai tujuan wisata, di mana wine tulang harimau dijual.

 "100 tahun lalu, ada lebih dari 100.000 harimau di Asia. Selama berabad-abad, spesies ini nyaris punah karena dikonsumsi," ujar Andrea Heydlauff, wakil ketua kelompok konservasi harimau, Panthera, kepada Huffington Post (28/02/13). "Di sini Anda meminum sesuatu yang mati dan menyebabkan sebuah spesies terancam punah karena yakin bahwa ramuan ini dapat memperbaiki hidup Anda," tambahnya.

Meski bagian tubuh harimau telah digunakan sebagai obat selama berabad-abad, Heydlauff berpendapat bahwa meningkatnya kesejahteraan di Cina semakin mendorong pasar wine tulang harimau. Meledaknya jumlah kelas menengah menyebabkan semakin banyak orang yang mampu membeli produk tersebut.

Ternyata tak hanya Cina yang terlibat dalam perdagangan harimau, melainkan juga Thailand, Vietnam, dan Laos. Globalisasi dan penyebaran komunitas Asia juga menyebabkan penjualan bagian tubuh harimau sampai ke Korea, Jepang, Singapura, hingga Chinatown di Amerika Serikat.
(odi/fit)


Baca Juga

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com
Telepon 021-7941177 (ext.524).
Cari Tempat Makan
Must Read close