detikfood

Rabu, 23/03/2011 16:18 WIB

Sate Padang Ajo Andre... Lamak Rasanyo!

Devita Sari - detikFood
Sate Padang Ajo Andre... Lamak Rasanyo! Foto: dev/detikFood
Buat penggemar sate Padang, sate yang satu ini bisa jadi pengobat rindu. Sate panas mengepul disajikan di atas selembar daun pisang. Kuahnya kuning kecoklatan, sedikit kental menguarkan aroma rempah yang wangi pedas. Disantap selagi panas dengan potongan ketupat, onde mande lamak nian!

Dibandingkan dengan racikan sate dari daerah lain, sate Padang memiliki keunikan. Tidak memakai kecap seperti umumnya satai di Jawa. Sate khas Minang ini memakai daging sapi berikut jeroannya yang sudah dimasak dengan bumbu rempah yang komplet.

Setelah empuk barulah tiap 3-4 potong ditusuk dengan tusuk satai. Satai ini kemudian dibakar dia tas api arang hingga agak kering. Sebagai sentuhan akhir sate disiram saus yang kental berbumbu. Tentu saja disantap dengan potongan ketupat.

Meskipun tak terlalu gandrung dengan satai ini tapi rasa gurih enaknya bisa juga membuat saya kangen. Akhirnya, sate Padang Ajo Andre yang ada di kawasan Cikajang menjadi incaran saya mengisi perut saat sore mendung dan dingin. Bayangan rasa pedas hangat dan gurihpun sudah terbayang-bayang.

'Sate Padang Cikajang Ajo Andre' adalah nama warung yang kami singgahi. Kata 'Ajo' sendiri bisa diartikan sebagai 'Uda' dalam bahasa Minang. Letaknya berada di Jl. Cikajang, persis di pelataran parkir M+ sehingga tampak jelas dari arah jalan raya. Hanya ada dua buah meja besar beratap terpal untuk bersantap. Warung ini juga menyatu dengan warung nasi uduk yang bersisian letaknya.

Warung ini punya lemari racik dengan bentuk atap rumah bagonjong khas Minang. Sate dibakar di bagian luar sehingga pengunjung yang sedang menyantap sate tak terganggu dengan asap. Untuk sate padang ini bisa dipilih daging saja atau campur.

Sekitar 10 menit menunggu akhirnya pesanan tiba. Seporsi sate padang berisi 10 tusuk sate daging sapi yang disajikan dalam piring yang beralaskan daun pisang. Dibawah sate ditaruh irisan katupe (ketupat) dan disiram bumbu kuning kecoklatan yang khas dan taburan bawang merah goreng.

Kalau melihat tampilannya, agaknya sate ini lebih cenderung mirip sate khas Bukittinggi bersaus kekuningan. Dengan rasa dan aroma kari yang lebih menonjol. Sedangkan yang versi Pariaman, bumbunya lebih kemerahan dengan rasa cabai lebih nonjok. Buat saya tak masalah karena saya suka rasa pedas.

Seperti layaknya sate padang irisan daging sapi yang ditusuk pada lidi ukurannya tidak begitu besar. Dagingnya cukup empuk - tidak terasa alot saat dikunyah - serasi dengan bumbu yang juga tidak terlalu kental dengan sensasi pedas. Lontongnya juga tak mengecewakan saat digigit terasa lembut dengan potongan yang cukup besar.

Saya juga tidak melewatkan kerupuk jangek alias kerupuk kulit yang menjadi pendamping setia si sate padang. Kerupuk kulit ini memang jodoh buat mengeruk saus satai. Karena umumnya tidak disediakan sendok. Caranya, kerupuk tinggal dipakai sebagai sendok buat membersihkan sisa-sisa saus yang menggenang di sela-sela potongan ketupat.

Kriuk krenyes gurih, beradu dengan lembut enak wangi rasa sausnya. Tak heran jika sausnya juga jadi licin tandas. Sate padang ini dihargai Rp 15.000,00 per porsi. O,ya menurut saya istilah sate Padang kurang pas. Mungkin lebih cocok disebut sate Minang. Ah, apapun istilahnya yang penting lamak juo!

Sate Padang Cikajang "Ajo Andre"
Jl.Cikajang no.12 Kebayoran Baru
Jakarta Selatan
Telpon : 98270433 / 0817748209


(Odi/dev)



Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com
Telepon 021-7941177 (ext.524).
Cari Tempat Makan