detikfood

Senin, 17/05/2010 13:27 WIB

Brongkos, Gurih Mlekoh

Bondan Winarno - detikFood
Brongkos, Gurih Mlekoh Foto: Bondan W
Entah kenapa, setiap kali membicarakan brongkos, saya selalu ingat almarhum Umar Kayam yang memang sangat mencintai masakan khas Jawa ini. Sampai-sampai supirnya – yang terkenal dengan sebutan Mister Rigen – berlatih mati-matian di dapur agar dapat menyajikan brongkos yang enak. Semua "anak buah" Pak Kayam pastilah telah menikmati pengayaan gizi lewat brongkos istimewa masakan Mister Rigen.

Brongkos adalah masakan khas Yogyakarta yang paling jarang merantau keluar daerahnya. Sepintas mirip rawon, namun lebih tebal kuahnya karena dimasak dengan santan, dan bumbu-bumbunya pun lebih lengkap. Kehadiran kacang tolo dan tahu di dalam sajian ini pun membuatnya makin berbeda dari rawon.

Menurut saya, brongkos termasuk makanan yang mudah disukai (easy to like). Pertama, karena masakan berkuah membuatnya terasa segar, khususnya di alam tropis yang sering terik. Kedua, karena isinya terdiri dari daging sapi, kacang tolo, dan tahu yang memang merupakan bahan-bahan makanan populer yang disukai orang.

Di Yogyakarta dan sekitarnya dapat dijumpai beberapa penjual brongkos unggulan yang masing-masing mempunyai ciri khasnya. Salah satu yang legendaris adalah Brongkos Bu Padmo di bawah Jembatan Krasak, sekitar 30 menit di Utara kota – di lintasan Yogyakarta-Muntilan. Uniknya, sekalipun tempat ini resminya bernama Warung Ijo, tetapi orang lebih mengenalnya sebagai Warung Bu Padmo.

Brongkos Bu Padmo rasanya intens, dengan santan yang mlekoh. Dagingnya empuk, dan disajikan dalam porsi yang generous – baik daging sapi maupun kacang tolo-nya. Kacang tolo-nya pun sangat empuk, dengan bumbu yang terserap sempurna.

Di dalam Kota Yogyakarta, di kawasan Alun-alun Selatan Kraton Yogyakarta, ada Warung Pecel Handayani yang juga punya brongkos berkelas juara. Keistimewaan brongkos di sini adalah memakai taburan emping mlinjo.

Ada juga Brongkos Koyor Kotik (dari Koh Tik) di Jalan Gandekan, dekat Malioboro. Sesuai namanya, irisan daging koyornya yang besar-besar. Istimewanya, brongkosnya memakai kulit buah mlinjo. Warung tenda ini hanya buka malam hari. Pemakaian koyor dalam Brongkos Kotik ini tampaknya memberi inspirasi bagi beberapa penjual brongkos untuk menambahkan kikil dalam masakannya.

Akhir-akhir ini, karena agak malas keluar kota, saya menemukan brongkos di Warung Soto Ngasem yang ternyata dilanggani Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Probosutedjo. Alasan saya menyukai brongkos ini terutama adalah karena kuahnya terasa lebih encer, tidak seberapa bersantan.

Kadang-kadang ada juga yang memasukkan telur rebus ke dalam masakan brongkos. Telur menjadi semakin padat karena direbus lama – mirip telur pindang – dan menyerap bumbunya yang gurih, sehingga menjadikan sajian ini lebih istimewa. Pendamping yang cocok untuk brongkos adalah telur asin dan kerupuk kulit. Taburan bawang merah goreng yang renyah juga akan meningkatkan citarasa brongkos.
(Odi/dev)



Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi sales[at]detik.com
Telepon 021-7941177 (ext.524).
Cari Tempat Makan