Jakarta -
Pengirim: Alvijanti R Email: alvijanti.r[at]gmail.com
Semangkok soto ayam memang bisa ditemui di mana saja. Namun di salah satu pinggiran pasar Benhil ini pengunjung tak hanya sekedar menikmati enaknya soto beratapkan langit sore Jakarta. Lewat kesederhanaan sang penjual, soto ayam ini menjadi bukan sekedar soto biasa!
Karena lokasinya dekat kantor, biasanya seminggu sekali saya mampir ke pasar Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat untuk membeli buah-buahan sesuai musimnya. Selain kualitasnya bersaing, harganya pun jauh lebih murah dibandingkan di pasar swalayan. Di samping itu harganya masih dapat ditawar, sehingga menimbulkan kepuasan tersendiri bagi saya.
Tetapi bukan itu saja yang menjadi daya tarik pasar Benhil. Setiap saya ke sana, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Itu lho, penjual soto ayam yang tak pernah henti dipenuhi para pembeli. Rasa penasaran yang semakin memuncak akhirnya membuat saya menyempatkan diri mampir ke sana setelah selesai berbelanja.
Untungnya sore itu cuaca cukup bersahabat-tidak mendung seperti biasanya, sehingga saya tidak perlu resah dan gelisah kuatir kehujanan. Maklum soto ayam ini mangkal di tempat terbuka, hanya bermodalkan gerobak, satu kursi kayu sepanjang 1 meter dan beberapa kursi plastik untuk para pengunjungnya.
Pesanan satu porsi soto ayam datang tidak terlalu lama. Semangkuk soto ayam terdiri atas nasi putih, toge pendek (kecambah), irisan kol putih, soun dan beberapa iris ayam rebus. Sebagai pelengkap ditaburi bawang goreng, seledri dan sejumput bubuk koya. Kuahnya bening mirip dengan gagrak soto lamongan. Dicampur dengan perasan jeruk nipis dan dimakan dengan krupuk tenggiri, hmmm... rasanya cukup lumayan di lidah saya.
Saat akan membayar saya sedikit terkejut karena semangkok soto dan kerupuk hanya dihargai Rp 5.000,00. Murah sekali, hanya setengah harga sepotong ayam goreng yang biasa saya makan di kantor. Iseng saya bertanya kepada bapak penjual soto tersebut, "Apa tidak rugi Pak menjual dengan harga semurah itu?" Dengan polosnya dia menjawab, bahwa lebih baik mengambil untung sedikit karena mayoritas pelanggan tetap berpenghasilan rendah yaitu para pedagang dan kuli angkut di pasar Benhil.
Tersentak saya mendengarnya dan seketika runtuhlah nilai kapitalis yang selama ini saya dapatkan selama kuliah dan bekerja, yaitu menggunakan biaya seminimal mungkin untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Sore itu saya mendapatkan pelajaran berharga, ini memang bukan sekedar soto ayam biasa!
(dev/Odi)
Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda,
di sini.
Palembang bukan hanya terkenal akan pempeknya. Di kota ini, pindang yang terbuat dari ikan dengan kuah asam-asam pedas juga sangat populer. Buktinya rumah makan Pindang Meranjat ini tak pernah sepi pengunjung.